Internasional

Pakistan Luncurkan Serangan Udara ke Afghanistan, Taliban Balas dengan Operasi Ofensif Perbatasan

Pada Jumat, 27 Februari 2026, Pakistan melancarkan serangkaian serangan udara terhadap sejumlah target di Afghanistan, termasuk di Kabul dan Kandahar, menyusul serangan darat oleh pasukan Afghanistan terhadap tentara perbatasan Pakistan. Insiden ini menandai eskalasi signifikan dalam konflik perbatasan yang telah berlangsung berbulan-bulan, dengan kedua belah pihak saling mengklaim menimbulkan kerugian besar.

Eskalasi Militer dan Klaim Pihak Bertikai

Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, menyatakan bahwa serangan udara Pakistan menargetkan fasilitas militer Taliban di Kabul, Paktia, dan Kandahar. Laporan dari tim jurnalis di Kabul mengonfirmasi adanya suara jet tempur dan beberapa ledakan keras selama lebih dari dua jam, diikuti tembakan senjata ringan. Di Kandahar, kota markas Pemimpin Tertinggi Taliban Hibatullah Akhundzada, suara jet juga terdengar.

Juru bicara pemerintah Taliban, Zabihullah Mujahid, membenarkan adanya serangan udara Pakistan namun membantah adanya korban jiwa di pihak mereka. Beberapa jam sebelum serangan udara Pakistan, Mujahid mengumumkan dimulainya “operasi ofensif skala besar” di perbatasan sebagai respons terhadap “pelanggaran berulang” oleh militer Pakistan.

Kementerian Pertahanan Afghanistan melaporkan delapan tentaranya tewas dalam operasi darat tersebut. Seorang pejabat Afghanistan, Qureshi Badlun dari provinsi Nangarhar, juga melaporkan tujuh warga sipil terluka, dengan seorang perempuan dalam kondisi serius, akibat mortir yang menghantam kamp pengungsi dekat perlintasan perbatasan Torkham.

Mujahid juga mengklaim bahwa beberapa tentara Pakistan telah “ditangkap hidup-hidup”, sebuah klaim yang segera dibantah oleh kantor perdana menteri di Islamabad.

Latar Belakang Konflik dan Upaya Mediasi

Ketegangan antara Pakistan dan Afghanistan telah memburuk secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Sejak bentrokan mematikan pada Oktober yang menewaskan lebih dari 70 orang dari kedua belah pihak, sebagian besar perlintasan darat antara kedua negara telah ditutup.

Misi PBB di Afghanistan melaporkan setidaknya 13 warga sipil tewas akibat serangan Pakistan sebelumnya di provinsi Nangarhar dan Paktika. Pemerintah Taliban, sementara itu, menyatakan setidaknya 18 orang tewas dan membantah klaim Pakistan yang menyebut lebih dari 80 militan tewas dalam operasi tersebut.

Beberapa putaran perundingan, yang dimediasi oleh Qatar dan Turkiye, sempat dilakukan setelah gencatan senjata awal, namun gagal menghasilkan kesepakatan jangka panjang. Arab Saudi juga turut campur tangan pada bulan ini dengan memediasi pembebasan tiga tentara Pakistan yang ditangkap Afghanistan pada Oktober.

Tuduhan Terorisme dan Implikasi Regional

Islamabad secara konsisten menuduh pemerintah Taliban gagal mengambil tindakan tegas terhadap kelompok militan yang melancarkan serangan di wilayah Pakistan. Tuduhan ini dibantah oleh pemerintah Taliban.

Militer Pakistan meluncurkan serangan udara beberapa hari sebelumnya menyusul serangkaian serangan bom bunuh diri mematikan di wilayahnya, termasuk serangan terhadap masjid Syiah di Islamabad yang menewaskan sedikitnya 40 orang dan diklaim oleh kelompok Islamic State. Cabang regional kelompok tersebut, Islamic State – Khorasan Province (IS-K), juga mengeklaim serangan bom bunuh diri di sebuah restoran di Kabul bulan lalu.

Dinamika konflik ini memiliki implikasi signifikan terhadap stabilitas regional Asia Selatan, berpotensi memperburuk krisis kemanusiaan dan mengganggu upaya kontra-terorisme yang lebih luas di kawasan tersebut.

Analisis mengenai eskalasi konflik ini didasarkan pada pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Pakistan dan juru bicara pemerintah Taliban, serta laporan dari Misi Bantuan PBB di Afghanistan (UNAMA) yang dirilis pada 27 Februari 2026.