Sebuah serangan bom bunuh diri mengguncang masjid Imam Bargah Qasr-e-Khadijatul Kubra di kawasan Tarlai, Islamabad, Pakistan, pada Jumat, 6 Februari 2026, menewaskan sedikitnya 31 orang dan melukai 169 lainnya. Insiden yang terjadi sesaat setelah salat Jumat ini menandai eskalasi serius dalam dinamika keamanan Pakistan, di tengah meningkatnya ancaman dari kelompok militan di wilayah perbatasan.
Otoritas kota Islamabad mengonfirmasi jumlah korban jiwa, sementara seorang pejabat senior kepolisian yang tidak disebutkan namanya menyatakan kekhawatiran akan potensi peningkatan angka kematian mengingat banyaknya korban luka yang berada dalam kondisi kritis. Sumber keamanan melaporkan bahwa pelaku sempat dicegat di gerbang masjid sebelum berhasil meledakkan diri.
Latar Belakang Eskalasi Keamanan Regional
Serangan ini terjadi di tengah periode peningkatan aktivitas militan di Pakistan, khususnya di provinsi-provinsi perbatasan selatan dan utara yang berbatasan langsung dengan Afghanistan. Pemerintah Pakistan secara konsisten menuding kelompok separatis di Balochistan, serta Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP) dan militan lainnya di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, memanfaatkan wilayah Afghanistan sebagai basis perlindungan. Tuduhan ini, bagaimanapun, berulang kali dibantah oleh Pemerintah Taliban Afghanistan, memicu ketegangan bilateral dan insiden bentrokan bersenjata berkala di perbatasan.
Ledakan di masjid Islamabad ini merupakan serangan besar pertama di ibu kota sejak insiden bom bunuh diri di luar gedung pengadilan pada November 2025 yang menewaskan 12 orang dan melukai puluhan lainnya. Di Balochistan selatan, pekan lalu, serangan yang diklaim oleh kelompok separatis menewaskan sedikitnya 36 warga sipil dan 22 personel keamanan. Pemerintah Pakistan merespons dengan meluncurkan operasi militer balasan yang, menurut keterangan resmi, menewaskan hampir 200 militan.
Respons Pemerintah dan Kondisi Lapangan
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengecam keras serangan tersebut, berjanji untuk mengadili para pelaku. “Mereka yang berada di balik ledakan ini akan ditemukan dan dibawa ke pengadilan,” tegas Sharif. Wakil Perdana Menteri Ishaq Dar melalui platform X menyebut insiden ini sebagai “kejahatan keji terhadap kemanusiaan” dan menegaskan bahwa “Pakistan bersatu melawan terorisme dalam segala bentuknya.”
Di lokasi kejadian, jurnalis AFP melaporkan kehadiran pasukan keamanan bersenjata yang berjaga ketat. Puing-puing, sepatu, pakaian, dan pecahan kaca berserakan di sekitar area penyelidikan yang telah dibentangi pita kuning. Video yang beredar di media sosial, meskipun belum terverifikasi secara independen, menunjukkan kondisi mencekam di aula utama masjid dengan puing-puing dan tubuh korban di atas permadani merah.
Situasi serupa terjadi di Rumah Sakit Institut Ilmu Kedokteran Pakistan (PIMS), tempat sejumlah korban luka, termasuk anak-anak, tiba menggunakan tandu atau digendong. Beberapa korban bahkan diangkut menggunakan bagasi mobil, dengan pakaian berlumuran darah. Ruang gawat darurat diselimuti kepanikan dan tangisan keluarga serta kerabat korban, sementara rumah sakit dijaga ketat oleh aparat keamanan. Hingga saat ini, belum ada kelompok atau individu yang secara resmi mengaku bertanggung jawab atas serangan ini.
Analisis mengenai insiden ini didasarkan pada laporan awal dari otoritas keamanan Pakistan, pernyataan resmi pemerintah, serta liputan media internasional seperti BBC dan AFP yang dirilis pada 6-7 Februari 2026.