Internasional

Pantau USS Abraham Lincoln, Kapal Riset Dayang Yihao China Lakukan Survei Strategis di Laut Arab

Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah memasuki fase baru seiring dengan terdeteksinya aktivitas kapal riset China, Dayang Yihao, yang beroperasi dalam jarak dekat dengan gugus tempur kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln. Data pelacakan maritim menunjukkan bahwa kapal riset tersebut telah melakukan aktivitas survei di Laut Arab sejak pertengahan Desember, menciptakan dinamika pengawasan yang ketat di tengah eskalasi hubungan Washington dan Teheran.

Dinamika Operasional di Perairan Strategis

Berdasarkan laporan dari SeaLight, kelompok analisis maritim yang berafiliasi dengan Stanford University, Dayang Yihao terpantau melakukan survei di perairan sebelah barat India. Analis intelijen sumber terbuka (OSINT), MenchOsint, mengonfirmasi bahwa posisi kapal riset tersebut berada di area yang berdekatan dengan jalur operasi USS Abraham Lincoln. Meskipun jarak presisi antar-wahana tidak dipublikasikan, pergerakan historis menunjukkan adanya pola pembayangan yang konsisten.

Hingga akhir Januari 2026, data dari Maritime Traffic menempatkan Dayang Yihao di lepas pantai Semenanjung Arab, bergerak sekitar 320 kilometer ke arah selatan dari posisi sebelumnya di dekat pantai Iran. Di sisi lain, USS Abraham Lincoln, kapal induk bertenaga nuklir yang sebelumnya bertugas di Laut China Selatan, telah direlokasi ke Timur Tengah atas perintah Presiden Donald Trump sebagai bentuk deterrence terhadap program nuklir Iran.

Kapabilitas Teknis dan Modernisasi Alutsista

Dayang Yihao bukan sekadar kapal riset biasa; wahana ini merupakan kapal riset ilmiah samudra modern pertama milik Beijing yang memiliki peran strategis dalam pengumpulan data bawah laut. Kapal ini dilengkapi dengan teknologi canggih yang mencakup:

  • Sistem pencitraan dasar laut tingkat lanjut untuk pemetaan real-time.
  • Sensor pemantauan akustik untuk mendeteksi anomali suara di bawah permukaan laut.
  • Kemampuan peluncuran kendaraan bawah air yang dioperasikan jarak jauh (ROV).

Pemerintah China melalui administrasi urusan kelautan menyatakan bahwa kapal ini tengah menjalani pemutakhiran sistem untuk mendukung survei sumber daya laut dalam. Namun, para analis militer memandang kemampuan sensorik kapal ini juga efektif untuk memantau tanda-tanda akustik kapal selam maupun kapal permukaan milik lawan.

Eskalasi Diplomasi dan Respon Regional

Kehadiran militer AS yang masif di kawasan tersebut didorong oleh kekhawatiran atas stabilitas regional dan ancaman terhadap jalur logistik energi. Sebagai respon, Teheran telah mengumumkan rencana latihan militer dengan peluru tajam di Selat Hormuz. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memperingatkan bahwa setiap agresi terhadap kedaulatan Iran akan memicu konflik skala luas.

Sementara itu, Beijing berupaya memposisikan diri sebagai mediator netral. Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menekankan pentingnya dialog konstruktif dan menolak penggunaan kekuatan militer dalam hubungan internasional. China secara tegas menyatakan penolakan terhadap kembalinya tatanan dunia ke sistem “hukum rimba” yang mengedepankan koersi militer.

Analisis mengenai pergerakan maritim dan dinamika kekuatan di Laut Arab ini didasarkan pada data pelacakan kapal komersial, citra satelit, serta pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri China dan Departemen Pertahanan Amerika Serikat yang dirilis hingga awal Februari 2026.

Tinggalkan komentar