Internasional

Pasca-Kematian Khamenei: Reza Pahlavi Serukan Pembelotan Militer Iran di Tengah Ketidakpastian Regional

Kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan udara yang diklaim dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel pada Minggu, 1 Januari 2026, telah memicu gelombang ketidakpastian politik di Teheran. Peristiwa ini segera diikuti oleh pernyataan tegas dari Reza Pahlavi, putra mahkota Iran yang diasingkan, yang menyerukan berakhirnya rezim Republik Islam dan pembelotan militer.

Melalui akun media sosialnya, Pahlavi secara eksplisit menyatakan bahwa kematian Khamenei menandai titik akhir bagi rezim yang berkuasa. “Ali Khamenei, tawa waktu yang haus darah, pembunuh puluhan ribu anak-anak paling berani di Iran, telah dihapus dari halaman waktu. Dengan kematiannya, Republik Islam juga telah berakhir dalam praktik dan akan segera bergabung dengan tempat sampah sejarah,” tulis Pahlavi dalam pesan yang ditujukan kepada rakyat Iran, Minggu pagi.

Latar Belakang Reza Pahlavi: Pewaris Dinasti Terakhir

Reza Pahlavi, lahir di Teheran pada 31 Oktober 1960, adalah putra sulung dan putra mahkota dari Mohammad Reza Pahlavi, Shah terakhir Iran yang digulingkan dalam Revolusi 1979. Ia resmi menyandang status pangeran saat penobatan ayahnya pada 1967. Pada usia 17 tahun, Pahlavi meninggalkan Iran untuk menjalani pelatihan pilot jet Angkatan Udara di Amerika Serikat. Namun, kepergiannya hanya berselang beberapa bulan sebelum revolusi meletus, memaksa keluarganya melarikan diri dari Iran.

Sejak saat itu, Pahlavi menghabiskan sebagian besar hidupnya di pengasingan, terutama di wilayah Washington D.C., AS. Ia memperoleh gelar sarjana di bidang ilmu politik dari University of Southern California (USC).

Advokasi Perubahan Rezim dan Seruan Pembelotan Militer

Meskipun ayahnya menghadapi ketidakpopuleran di akhir masa jabatannya karena gaya kepemimpinan otokratis, Reza Pahlavi membangun citra baru di pengasingan sebagai pendukung pemerintahan sekuler dan demokrasi penuh untuk Iran. Sepanjang tahun 1990-an hingga 2000-an, Pahlavi rutin muncul di stasiun televisi berbahasa Persia untuk mengampanyekan pembangkangan sipil tanpa kekerasan.

Meskipun ia menyatakan tidak berambisi kembali ke takhta sebagai raja, Pahlavi sering memposisikan diri sebagai “katalisator” bagi rakyat Iran untuk menentukan masa depan mereka sendiri. Pasca-kematian Khamenei, Pahlavi mengeluarkan seruan krusial kepada militer dan aparat keamanan Iran untuk segera membelot dan bergabung dengan gerakan rakyat. “Kepada militer, penegak hukum, dan pasukan keamanan: setiap upaya untuk mempertahankan rezim yang jatuh pasti akan gagal. Ini adalah kesempatan terakhir Anda untuk bergabung dengan bangsa ini,” tegasnya.

Kedekatan dengan Amerika Serikat dan Israel

Posisi politik Pahlavi sering kali sejalan dengan kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Pada 2023, ia melakukan kunjungan bersejarah ke Israel dan bertemu dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Dukungannya terhadap kebijakan “tekanan maksimum” Donald Trump terhadap Iran menjadikannya tokoh sentral bagi oposisi Iran di luar negeri.

Kini, dengan tewasnya Khamenei di Teheran, dunia menanti apakah seruan Pahlavi untuk “kehadiran masif di jalanan” akan benar-benar mengakhiri kekuasaan Republik Islam Iran yang telah bertahan sejak 1979, dan bagaimana dinamika kekuatan regional akan bergeser.

Analisis mengenai insiden serangan udara dan pernyataan Reza Pahlavi ini didasarkan pada laporan media internasional dan unggahan resmi Pahlavi di platform media sosial, serta analisis situasi politik regional.