CEO Meta, Mark Zuckerberg, baru-baru ini menghadapi persidangan di Los Angeles, Amerika Serikat, untuk membantah tuduhan bahwa platform media sosial seperti Instagram dan Facebook dirancang secara inheren adiktif, terutama bagi anak-anak dan remaja. Gugatan ini, yang diajukan oleh penggugat berinisial K.G.M. dan ribuan lainnya, menyoroti mekanisme platform yang diduga memicu perilaku kompulsif di kalangan pengguna muda, memicu perdebatan sengit mengenai tanggung jawab perusahaan teknologi.
Argumen Pembelaan Meta di Hadapan Juri
Dalam kesaksiannya, Zuckerberg dengan tegas membantah interpretasi penggugat terhadap dokumen internal perusahaan. Ia menyatakan bahwa riset internal yang disajikan oleh pengacara penggugat, Mark Lanier, juga mencantumkan aspek positif dari penggunaan Instagram. Menurut Zuckerberg, laporan tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Meta untuk memahami perilaku pengguna dan melakukan perbaikan platform secara terus-menerus. Ia juga menuduh Lanier mengambil dokumen mengenai pengguna pra-remaja (tweens) di luar konteks, menegaskan bahwa kelompok usia tersebut secara resmi tidak diizinkan menggunakan layanan Meta.
Zuckerberg mengakui penyesalan atas lambatnya identifikasi pengguna di bawah 13 tahun di masa lalu, namun ia yakin perusahaan kini berada di “jalur yang tepat” dalam penanganannya. Ia juga menekankan bahwa pengguna remaja menyumbang “kurang dari 1 persen” dari total pendapatan iklan perusahaan, mengindikasikan bahwa motivasi finansial untuk menargetkan kelompok usia ini tidak signifikan.
Data Internal dan Kontroversi
Pengacara K.G.M., Mark Lanier, menyajikan serangkaian bukti internal yang menantang pembelaan Meta. Ini termasuk email internal tahun 2019 yang dikirim kepada Zuckerberg dan eksekutif Meta lainnya, menyoroti penegakan batasan usia yang tidak konsisten. Email tersebut, dari Nick Clegg (mantan kepala urusan global Meta), menyatakan bahwa kondisi ini menyulitkan perusahaan untuk “mengeklaim bahwa kami sudah melakukan semua yang kami bisa.”
Lebih lanjut, Lanier menampilkan laporan riset eksternal tahun 2019 yang ditugaskan oleh Instagram, yang menemukan bahwa remaja merasa “terikat atau ketagihan meski sadar dampaknya terhadap perasaan mereka,” bahkan memiliki “narasi seperti pecandu” terkait penggunaan platform. Laporan lain dari tahun 2018 juga membahas keberhasilan Meta dalam mempertahankan pengguna usia 8-12 tahun, meskipun perusahaan mengklaim kelompok usia ini tidak diizinkan.
Zuckerberg juga ditekan mengenai email tahun 2015 yang menunjukkan target tahunan untuk meningkatkan “waktu penggunaan sebesar 12 persen” dan membalikkan tren penurunan pengguna remaja. Email terpisah tahun 2017 dari seorang eksekutif menyatakan bahwa “Mark telah memutuskan prioritas utama perusahaan adalah remaja.” Zuckerberg menjelaskan bahwa target peningkatan waktu penggunaan adalah praktik “pada tahap awal perusahaan” dan cara kerja perusahaan kini telah berubah.
Tanggapan Adam Mosseri dan Batasan Adiksi
Sebelum Zuckerberg, Head of Instagram Adam Mosseri juga bersaksi, menegaskan bahwa penggunaan media sosial yang tampak berlebihan tidak secara otomatis berarti kecanduan klinis. Mosseri berpendapat bahwa batas penggunaan yang bermasalah bersifat “personal,” dan seseorang bisa menggunakan Instagram lebih lama dari orang lain tanpa merasa terganggu. Ia membedakan antara “kecanduan klinis” dan “penggunaan yang bermasalah,” membandingkannya dengan maraton serial Netflix.
Namun, ketika ditanya tentang penggunaan Instagram oleh K.G.M. selama 16 jam dalam sehari, Mosseri mengakui bahwa itu “kedengarannya seperti penggunaan yang bermasalah,” meskipun ia menolak menyebutnya sebagai kecanduan, dengan alasan ia bukan ahli adiksi.
Fitur Pengelolaan Waktu dan Efektivitasnya
Meta menyoroti fitur-fitur yang dirilis pada tahun 2018, seperti pengaturan batas waktu harian, peringatan durasi penggunaan, dan opsi mematikan notifikasi malam hari, sebagai bukti komitmen mereka terhadap “penggunaan bermasalah.” Namun, dokumen internal Meta yang disajikan Lanier menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil remaja yang benar-benar menggunakan fitur-fitur ini; misalnya, hanya 1,1 persen pengguna remaja yang mengaktifkan batas penggunaan harian.
Dampak Industri dan Regulasi Global
Persidangan ini, yang diperkirakan berlangsung selama enam minggu, menjadi sorotan utama dalam upaya hukum untuk meminta pertanggungjawaban perusahaan teknologi atas dampak platform mereka terhadap kesehatan mental anak muda. Selain Meta, YouTube milik Google juga menjadi terdakwa dalam perkara ini, sementara TikTok dan Snapchat memilih penyelesaian di luar pengadilan.
Kasus ini mencerminkan ribuan gugatan serupa di Amerika Serikat dan memicu gelombang pertimbangan regulasi di berbagai negara. Australia, misalnya, telah melarang akun media sosial bagi anak di bawah 16 tahun, menunjukkan tren global menuju pengawasan yang lebih ketat terhadap akses dan penggunaan platform digital oleh anak-anak.