Internasional

Pembukaan Dokumen Epstein Seret Miliarder UEA, Ungkap Korespondensi Sensitif dan Video Penyiksaan

WASHINGTON DC – Dokumen yang tidak disensor dari berkas kasus Jeffrey Epstein telah mengungkap korespondensi lama antara terpidana pelaku kejahatan seksual tersebut dengan seorang miliarder berpengaruh dari Uni Emirat Arab (UEA). Nama Sultan Ahmed bin Sulayem, tokoh bisnis terkemuka di Dubai dan CEO DP World, kini terungkap dalam sejumlah email dan pesan yang telah dibuka untuk publik, memicu pertanyaan mengenai implikasi reputasional dan desakan transparansi.

Latar Belakang Pembukaan Dokumen

Identitas Sultan Ahmed bin Sulayem, yang sebelumnya disamarkan sebagai salah satu dari “enam pria kaya dan berkuasa” dalam dokumen Epstein, kini terungkap setelah anggota Kongres AS memperoleh akses ke berkas tanpa sensor dari Departemen Kehakiman (DOJ). Pembukaan identitas ini merupakan hasil dari diberlakukannya Epstein Files Transparency Act, sebuah undang-undang yang memungkinkan akses lebih luas terhadap dokumen kasus Epstein. Undang-undang ini secara eksplisit melarang penyensoran yang bertujuan menghindari rasa malu, kerusakan reputasi, atau sensitivitas politik, termasuk bagi pejabat pemerintah, figur publik, maupun tokoh asing.

Korespondensi Sensitif dan Implikasinya

Salah satu pesan yang menjadi sorotan adalah email bertanggal April 2009, di mana Epstein menulis kepada bin Sulayem, “Di mana kamu? kamu baik-baik saja? Saya menyukai video penyiksaan itu.” Balasan atas email tersebut mengindikasikan bahwa penerima sedang berada di China dan akan tiba di Amerika Serikat pada pekan kedua Mei. Selain itu, dokumen juga menunjukkan adanya percakapan lain yang menyentuh topik seksual serta pertukaran tautan ke situs berkonten fetish. Pada tahun 2017, Epstein juga mengirim tautan ke sebuah situs yang menawarkan layanan pendamping, sementara bin Sulayem mengirim salinan paspor seorang perempuan yang disebut sebagai terapis pijat pribadi di fasilitas Epstein, meminta bantuan untuk mencarikan posisi pelatihan kerja di sebuah hotel di Antalya, Turki.

Profil Sultan Ahmed bin Sulayem

Sultan Ahmed bin Sulayem dikenal sebagai pengembang real estat terkemuka dari Dubai dan figur sentral di sektor logistik global. Ia menjabat sebagai CEO DP World, sebuah perusahaan logistik internasional yang berbasis di UEA, yang beroperasi di bidang pelabuhan, kargo, dan layanan maritim. DP World mengklaim menangani sekitar 10 persen perdagangan global setiap hari, dengan operasi signifikan di Inggris, termasuk di pelabuhan dan terminal kereta barang seperti London Gateway dan Southampton.

Desakan Transparansi dan Akuntabilitas

Anggota Kongres dari Partai Republik, Thomas Massie, menyoroti pembukaan identitas ini di platform X, menyatakan, “Sampai malam ini tak ada yang tahu siapa yang mengirim video penyiksaan itu kepada Epstein. Saya pergi ke DOJ, membuka sensor pada email tersebut, dan menelusuri balik email itu untuk mengetahui bahwa itu adalah seorang Sultan.” Anggota Kongres dari Partai Demokrat, Ro Khanna, juga mengkritik luasnya bagian dokumen yang masih disensor, sementara Jamie Raskin dari Komite Yudisial DPR mengonfirmasi adanya “banyak sekali sensor yang sama sekali tidak perlu, selain kegagalan menyensor nama-nama korban.”

Analisis mengenai pembukaan dokumen ini didasarkan pada berkas pengadilan yang tidak disensor dan pernyataan resmi anggota Kongres AS yang dirilis kepada publik.