Internasional

Pentagon: AI Anthropic Digunakan dalam Serangan Iran, Kebijakan Teknologi Pertahanan AS Dipertanyakan

Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan mengerahkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dari Anthropic, termasuk model Claude, dalam serangan terhadap target di Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Penggunaan ini memicu kontroversi signifikan, mengingat sehari sebelumnya Washington telah melabeli Anthropic sebagai “risiko rantai pasok,” sebuah klasifikasi yang biasanya diterapkan pada entitas yang berpotensi mengancam keamanan nasional AS. Presiden Donald Trump secara terbuka mengkritik perusahaan tersebut, menyebutnya “perusahaan AI kiri radikal yang dijalankan orang-orang yang tidak memahami dunia nyata.”

Latar Belakang Kontroversi Teknologi AI

Anthropic, sebuah perusahaan riset dan keamanan AI yang berbasis di AS dan didirikan pada 2021, berfokus pada pengembangan sistem AI yang andal, aman, dan dapat dikendalikan manusia. Perusahaan menempatkan keselamatan AI sebagai inti pengembangan, menjadikannya objek penelitian sistematis dan hasilnya dibagikan untuk pengembangan lebih lanjut. Sebagai Public Benefit Corporation (PBC), Anthropic mengklaim prioritas pada keselamatan AI dan tanggung jawab sosial, tidak hanya mengejar keuntungan tetapi juga bertanggung jawab terhadap manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Produk utamanya, Claude, adalah model AI generatif yang dirancang untuk membantu berbagai sektor seperti bisnis, organisasi nirlaba, dan komunitas sipil. Pengembangan Claude menekankan kontrol manusia dan keamanan, agar responsnya tetap sesuai dengan nilai dan aturan yang ditetapkan.

Implikasi Penggunaan AI dalam Operasi Militer

Laporan dari media internasional mengindikasikan bahwa AI Anthropic dimanfaatkan militer AS untuk keperluan intelijen, seleksi target, dan simulasi medan perang. Hal ini menjadikan Anthropic sebagai perusahaan AI pertama yang memproses informasi rahasia melalui penyedia layanan cloud Amazon untuk lembaga intelijen dan angkatan bersenjata AS.

Namun, Anthropic secara konsisten menyatakan penolakannya terhadap keterlibatan dalam kekerasan. Ketentuan penggunaan Claude secara eksplisit melarang pemanfaatan untuk kekerasan, senjata, atau pengawasan. Konflik antara perusahaan dan Pentagon semakin meruncing setelah Claude dilaporkan digunakan dalam operasi penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, pada Januari 2026, yang bertentangan dengan kebijakan internal Anthropic.

Dinamika Kebijakan Pertahanan AS dan Transisi Teknologi

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menuding Anthropic “sombong dan mengkhianati,” menuntut akses penuh ke semua model AI perusahaan untuk tujuan keamanan nasional. Hegseth juga mengakui kompleksitas dalam memisahkan sistem militer dari Claude akibat integrasinya yang luas dalam berbagai operasi. Untuk memfasilitasi pemindahan layanan, Anthropic telah menyepakati periode transisi enam bulan.

Setelah pemutusan hubungan dengan Anthropic, OpenAI mengambil alih peran tersebut. CEO OpenAI, Sam Altman, mengonfirmasi bahwa perusahaannya telah mencapai kesepakatan dengan Pentagon untuk mengintegrasikan alat-alat mereka, termasuk ChatGPT, ke dalam jaringan rahasia militer AS. Langkah ini menandai pergeseran signifikan dalam strategi akuisisi teknologi AI oleh Pentagon.

Analisis mengenai dinamika penggunaan teknologi AI dalam operasi militer ini didasarkan pada laporan dari media internasional terkemuka dan pernyataan resmi dari pejabat pemerintah AS yang dirilis pada awal Maret 2026.