Internasional

Pentagon Peringatkan Trump: Serangan Jangka Panjang ke Iran Berisiko Eskalasi Regional

WASHINGTON DC – Pentagon telah menyampaikan peringatan serius kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai potensi risiko besar dari rencana operasi militer jangka panjang terhadap Iran. Peringatan ini menyoroti ancaman terhadap personel AS dan sekutu, penipisan cadangan pertahanan udara, serta kemungkinan eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah, yang dapat berdampak signifikan pada stabilitas regional dan global.

Analisis Risiko Operasi Militer Jangka Panjang

Diskusi internal di Pentagon dan Dewan Keamanan Nasional, yang dipimpin oleh Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, meninjau berbagai opsi militer terhadap Teheran. Opsi tersebut berkisar dari serangan terbatas hingga kampanye udara ekstensif yang bertujuan melemahkan atau menggulingkan kepemimpinan Iran, demikian dilaporkan Wall Street Journal pada Senin (23/2/2026). Namun, para perencana militer AS menekankan bahwa operasi berkelanjutan akan membebani pasukan AS secara signifikan dan menguras cadangan sistem pencegat rudal.

Ketersediaan sistem pertahanan udara krusial seperti Patriot, THAAD, dan SM-3 dilaporkan mulai terbatas, sebagaimana diungkap Kyiv Post pada Selasa (24/2/2026). Para pejabat terkait memperingatkan bahwa penggunaan munisi pertahanan udara secara masif di Timur Tengah dapat mengganggu kesiapan strategis AS untuk menghadapi potensi konflik di masa depan, khususnya dengan Republik Rakyat Tiongkok.

Kesiapan Militer dan Respons Iran

Saat ini, AS telah mengerahkan salah satu kekuatan udara dan laut terbesar di Timur Tengah sejak Perang Irak 2003, mencakup dua gugus tempur kapal induk, dengan satu beroperasi di Laut Mediterania. Situasi keamanan yang memanas ini mendorong Kementerian Luar Negeri AS untuk mengevakuasi personel non-darurat dan anggota keluarga dari Kedutaan Besar AS di Lebanon pada Senin (23/2/2026).

Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah mengeluarkan ancaman balasan terhadap setiap serangan, memperingatkan bahwa pasukan Iran memiliki kapabilitas untuk menargetkan kapal perang Amerika. AS memprediksi Iran akan mengerahkan rudal dari gudang persenjataan dan kelompok proksinya di seluruh kawasan sebagai respons terhadap agresi militer.

Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menyatakan bahwa peran Jenderal Caine adalah memberikan penilaian militer yang objektif kepada presiden. Menanggapi hal tersebut, Presiden Trump mengakui preferensi Caine untuk menghindari perang, namun menegaskan keyakinannya bahwa AS akan meraih kemenangan mudah atas Iran.

Dinamika Diplomatik di Tengah Eskalasi

Meskipun ancaman militer meningkat, upaya diplomasi tetap berlanjut. Washington terus bernegosiasi dengan Teheran untuk membatasi program nuklir, kemampuan rudal balistik, dan dukungan Iran terhadap kelompok proksi di kawasan. Putaran perundingan berikutnya dijadwalkan berlangsung pada Kamis (26/2/2026) di Jenewa, di mana Iran diharapkan memaparkan posisinya kepada utusan Trump, Steve Witkoff. Sebelumnya, perundingan serupa juga telah difasilitasi oleh Oman sebagai perantara.

Hingga saat ini, Presiden Trump dilaporkan belum mengambil keputusan final mengenai perintah tindakan militer, menunjukkan adanya ruang bagi solusi diplomatik di tengah ketegangan yang memuncak.

Analisis mengenai potensi operasi militer dan dinamika diplomatik ini didasarkan pada laporan dari Wall Street Journal, Kyiv Post, serta pernyataan resmi dari Kementerian Pertahanan AS dan Gedung Putih yang dirilis pada periode 23-24 Februari 2026.