Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban menyerukan agar negara-negara Eropa menghentikan pengiriman dana ke Ukraina, sebuah pernyataan yang disampaikan menjelang pertemuan dengan para pemimpin Uni Eropa pada Kamis, 12 Februari 2026. Seruan ini menggarisbawahi sikap skeptis Budapest terhadap dukungan finansial Uni Eropa bagi Kyiv di tengah konflik yang masih berlangsung, sekaligus menyoroti potensi dampak terhadap daya saing ekonomi blok tersebut.
Sikap Skeptis Budapest Terhadap Dukungan Kyiv
Berbicara kepada wartawan, Orban menegaskan bahwa prioritas keuangan seharusnya dialokasikan untuk kepentingan ekonomi domestik negara-negara Eropa. Ia berpendapat bahwa pengeluaran besar untuk membantu Ukraina justru dapat melemahkan kemampuan ekonomi Eropa sendiri di tengah persaingan global yang ketat. Sikap ini menegaskan posisi Hongaria yang kerap berseberangan dengan mayoritas negara anggota Uni Eropa dalam isu dukungan terhadap Ukraina.
Skala Bantuan Uni Eropa dan Implikasinya
Berdasarkan data resmi hingga akhir 2025, Uni Eropa dan negara-negara anggotanya telah menyalurkan sekitar 177 miliar euro dalam bentuk bantuan militer, ekonomi, dan politik kepada Ukraina sejak invasi Rusia pada Februari 2022. Selain itu, blok beranggotakan 27 negara tersebut juga telah menyetujui pinjaman senilai 90 miliar euro yang dimaksudkan untuk menjaga pendanaan bagi Kyiv selama dua tahun ke depan. Sebagai perbandingan, total produk domestik bruto (PDB) gabungan Uni Eropa mencapai hampir 18 triliun euro, menunjukkan skala signifikan dari komitmen finansial ini.
Posisi Geopolitik Hongaria dan Ketergantungan Energi
Orban, yang dikenal sebagai sekutu terdekat Presiden Rusia Vladimir Putin di dalam Uni Eropa, secara konsisten menyuarakan keraguan terhadap kebijakan dukungan UE kepada Ukraina. Sikap nasionalisnya kerap menempatkan Budapest berseberangan dengan garis kebijakan mayoritas negara anggota, bahkan berulang kali menjadi penghambat dalam pengambilan keputusan UE terkait Ukraina. Hongaria juga memberlakukan veto yang menghambat proses pembicaraan aksesi Ukraina untuk bergabung dengan Uni Eropa. Berbeda dengan banyak negara Eropa lain, Hongaria tidak melakukan diversifikasi impor energinya sejak serangan Moskwa ke Ukraina, sehingga tetap memiliki ketergantungan yang kuat terhadap pasokan energi dari Rusia.
Pernyataan ini didasarkan pada laporan media dan pernyataan resmi yang dirilis oleh Kantor Perdana Menteri Hongaria serta data bantuan Uni Eropa yang dipublikasikan oleh Komisi Eropa.