Internasional

Pergeseran Standar Konsumen China: Dampak Signifikan terhadap Stabilitas Ekonomi Sektor Durian Malaysia

KUALA LUMPUR – Industri durian Malaysia menghadapi gejolak signifikan menyusul pergeseran preferensi pasar di China, konsumen utama komoditas ini. Petani durian di Malaysia melaporkan penurunan keuntungan hingga 60 persen pada musim ini, dengan harga jual anjlok ke level terendah dalam satu dekade terakhir. Situasi ini memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas ekonomi sektor pertanian yang sebelumnya sangat diuntungkan oleh lonjakan permintaan global.

Pergeseran Preferensi Konsumen China dan Dampaknya

Masalah utama yang melanda industri durian Malaysia bukan pada penurunan minat konsumen China terhadap “Raja Buah,” melainkan pada perubahan standar pembelian. Pembeli di China kini memprioritaskan durian utuh yang segar, meninggalkan permintaan durian beku yang selama ini menjadi tulang punggung ekspor Malaysia. Eric Chan, Presiden Asosiasi Produsen Durian Malaysia, menekankan urgensi untuk memastikan rantai pasok dapat mengakomodasi perubahan ekspor durian segar ini. Namun, keterbatasan penerbangan kargo dari Malaysia ke China menjadi kendala krusial dalam memenuhi permintaan baru tersebut, memperparah kelebihan produksi domestik.

Kelebihan Produksi dan Anjloknya Harga

Kelebihan pasokan yang tidak terserap oleh pasar ekspor memicu apa yang disebut petani sebagai “tsunami durian.” Pada Desember 2025, harga durian anjlok drastis hingga 10 ringgit (sekitar Rp 35.000) per kilogram, hanya sepersepuluh dari harga normal. Krisis ini merupakan konsekuensi dari ekspansi besar-besaran perkebunan durian antara tahun 2016 hingga 2019, mengingat masa tanam pohon durian yang membutuhkan 5 hingga 10 tahun untuk berbuah. Data pemerintah Malaysia menunjukkan, luas perkebunan durian meningkat dari 163.000 hektare pada 2016 menjadi lebih dari 227.000 hektare pada 2024, dengan produksi nasional mencapai 568.000 ton.

Dinamika Persaingan Regional dan Strategi China

Selain perubahan selera, perlambatan ekonomi China juga membuat pembeli lebih selektif dan ketat dalam negosiasi harga, menurut Lim Chin Khee dari Durian Academy. Malaysia kini menghadapi persaingan ketat dari eksportir regional lain seperti Thailand, Vietnam, dan Indonesia. Sam Tan, Presiden Asosiasi Eksportir Durian Malaysia, memprediksi Thailand juga akan merasakan tekanan harga serupa pada musim puncaknya di bulan April. Lebih lanjut, produsen Malaysia mulai mencermati upaya China untuk mencapai “kedaulatan durian” melalui penanaman durian sendiri, sebuah langkah strategis yang berpotensi mengubah lanskap pasar global secara fundamental.

Respon Domestik dan Proyeksi Pasar

Di tengah krisis ini, konsumen domestik Malaysia justru menyambut baik penurunan harga durian, yang sebelumnya dianggap terlalu mahal akibat permintaan ekspor. Pemerintah Malaysia juga telah mengambil langkah intervensi dengan membeli sebagian buah yang berlebih untuk membantu petani. Namun, dengan proyeksi peningkatan produksi Malaysia menjadi 590.000 ton tahun ini, para eksportir mulai menargetkan pasar baru seperti Taiwan dan Peru, meskipun ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan China. Stephen Chow, pengelola perkebunan Chow Kai Pheng Enterprise, memperkirakan pasokan akan melebihi permintaan selama tiga hingga lima tahun ke depan, mengindikasikan bahwa situasi saat ini hanyalah awal dari tantangan yang lebih besar.

Analisis mengenai dinamika pasar durian ini didasarkan pada laporan media internasional dan pernyataan resmi dari Asosiasi Produsen Durian Malaysia serta data pemerintah yang dirilis hingga Februari 2026.