Internasional

Perkuat Diplomasi Militer, China Pasok 26 Persen Kebutuhan Senjata di Kawasan Afrika Barat

Pudarnya pengaruh geopolitik Perancis di wilayah Afrika Barat dan Tengah menciptakan pergeseran signifikan dalam peta keamanan regional. Kevakuman yang ditinggalkan oleh penarikan pasukan kontra-terorisme Perancis, ditambah dengan keterbatasan pasokan alutsista Rusia akibat konflik di Ukraina, kini dimanfaatkan secara strategis oleh Beijing untuk memperluas dominasi pasar persenjataannya di kawasan tersebut.

Pergeseran Peta Keamanan dan Ekspansi Pasar Beijing

Laporan terbaru dari jurnal China Military to Civilian yang dirilis pada Februari 2026 menunjukkan bahwa China National Aero-Technology Import & Export Corporation (CATIC) berhasil mengkapitalisasi reputasi teknologi militer yang hemat biaya. Strategi ini didukung oleh skema pembiayaan fleksibel yang menyasar negara-negara di zona Sahel, termasuk Burkina Faso, Mali, dan Niger, yang telah mengalami serangkaian kudeta militer sejak tahun 2020.

Data dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) periode 2020–2024 mengonfirmasi tren dominasi ini. China tercatat sebagai pemasok senjata terbesar bagi negara-negara Afrika Barat dengan rincian distribusi pasar sebagai berikut:

PemasokPangsa Pasar (%)
China26%
Perancis14%
Rusia11%
Turkiye11%

Katarina Djokic, peneliti dari Arms Transfers Programme SIPRI, menyatakan bahwa ekspor militer China ke wilayah ini telah mencapai level tertinggi dalam sejarah. Peningkatan signifikan terlihat pada transfer alutsista ke Senegal dan Ghana, meskipun kedua negara tersebut secara tradisional memiliki hubungan militer yang erat dengan Perancis.

Keunggulan Teknis dan Strategi Low Profile

Persenjataan China dinilai memiliki keunggulan kompetitif melalui kombinasi biaya operasional yang rendah, kemudahan perawatan, serta sistem layanan purna jual yang adaptif terhadap kebutuhan spesifik militer Afrika. Meskipun Amerika Serikat dan Rusia masih menguasai segmen pasar kelas atas, China secara konsisten memperkuat penetrasi pada sektor kendaraan lapis baja dan pesawat nirawak (drone).

Modernisasi Institusional dan Pelatihan Militer

Dalam kerangka Rencana Aksi Beijing pada Forum Kerja Sama China-Afrika (FOCAC) 2024–2027, China berkomitmen memberikan pelatihan bagi 6.500 personel militer Afrika. Strategi ini mencerminkan pendekatan low profile yang fokus pada penguatan ikatan institusional dan transfer teknologi alih-alih penempatan pasukan tempur di lapangan. Produsen senjata utama, Norinco, bahkan telah meresmikan kantor operasional di Nigeria dan Senegal guna mempercepat jalur logistik dan dukungan teknis.

Analisis Strategis dan Tantangan Regional

Analis dari Royal United Services Institute (RUSI), Alessandro Arduino, menilai bahwa pembiayaan yang permisif membuat perangkat keras militer China sangat menarik bagi pemerintahan yang menghadapi keterbatasan anggaran. Namun, tantangan tetap ada dari kompetitor lain seperti Turkiye yang agresif dalam ekspor pertahanan serta jaringan keamanan Rusia yang sudah mengakar di beberapa negara transisi.

Di Mali, Presiden Transisi Assimi Goita telah menandatangani kesepakatan pertahanan komprehensif dengan Norinco pada tahun 2024. Langkah ini dipandang sebagai upaya diversifikasi mitra keamanan di tengah tekanan internasional terhadap rezim militer di Sahel. Meski demikian, keterbatasan China dalam memberikan dukungan militer kinetik atau keterlibatan langsung dalam pertempuran tetap menjadi faktor pembeda dengan doktrin keamanan Rusia atau Amerika Serikat.

Analisis mengenai dinamika transfer senjata dan pergeseran pengaruh keamanan di Afrika Barat ini disusun berdasarkan data laporan SIPRI, dokumen resmi FOCAC 2024, serta pernyataan resmi dari kementerian pertahanan terkait yang dirilis hingga Februari 2026.