Internasional

Perundingan Jenewa: Rusia dan Ukraina Gagal Capai Kesepakatan Teritorial di Tengah Eskalasi Militer

Putaran ketiga perundingan damai antara Rusia dan Ukraina yang dimediasi oleh Amerika Serikat di Jenewa, Swiss, berakhir tanpa terobosan signifikan pada Rabu (18/2/2026). Pertemuan ini berlangsung di bawah bayang-bayang peringatan empat tahun invasi penuh Rusia, dengan fokus utama pada mekanisme solusi praktis untuk mengakhiri konflik bersenjata terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II.

Dinamika Negosiasi dan Keterlibatan Aktor Global

Delegasi Ukraina yang dipimpin oleh Rustem Umerov dan delegasi Rusia di bawah pimpinan Vladimir Medinsky terlibat dalam diskusi intensif selama enam jam. Meskipun Presiden Volodymyr Zelenskyy menyatakan kesiapan Kyiv untuk mencapai kesepakatan yang layak, pihak Ukraina tetap bersikap skeptis terhadap itikad baik Moskwa di meja perundingan. Umerov menegaskan bahwa fokus utama adalah isu praktis, namun tanpa ekspektasi yang berlebihan.

Keterlibatan Amerika Serikat dalam putaran ini terlihat sangat menonjol dengan kehadiran utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner. Selain itu, kehadiran pejabat militer senior seperti Komandan NATO di Eropa, Jenderal Alexus Grynkewich, serta Sekretaris Angkatan Darat AS Dan Driscoll, menunjukkan bahwa dimensi keamanan teknis dan koordinasi militer menjadi prioritas dalam pembicaraan trilateral tersebut.

Eskalasi Militer di Tengah Jalur Diplomasi

Kontras dengan upaya diplomasi di Jenewa, situasi di medan tempur justru menunjukkan eskalasi yang tajam. Ukraina melaporkan serangan masif Rusia yang melibatkan 29 rudal dan 396 drone dalam satu malam, yang mengakibatkan krisis infrastruktur energi di kota pelabuhan Odesa. Sebaliknya, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah mengintersepsi lebih dari 150 drone Ukraina yang menyasar wilayah selatan dan Semenanjung Krimea.

Jenis AlutsistaJumlah/KlaimTarget/Lokasi
Rudal Rusia29 UnitInfrastruktur Sipil Ukraina
Drone Rusia396 UnitOdesa dan Wilayah Selatan
Drone Ukraina150+ UnitKrimea dan Rusia Selatan

Hambatan Strategis: Status Teritorial Donetsk

Titik buntu utama dalam negosiasi ini tetap berkisar pada status teritorial, khususnya wilayah Donetsk di Ukraina Timur. Rusia menuntut penyerahan penuh sisa wilayah Donetsk yang belum mereka kuasai, sebuah syarat yang secara tegas ditolak oleh Kyiv. Saat ini, Rusia telah menguasai sekitar 20 persen wilayah Ukraina sejak 2014, dan tuntutan tambahan ini dianggap sebagai pelanggaran kedaulatan yang tidak dapat dinegosiasikan oleh pihak Ukraina.

Presiden AS Donald Trump terus memberikan tekanan diplomatik agar kedua belah pihak segera mencapai kesepakatan. Namun, Kyiv memandang tekanan untuk memberikan konsesi wilayah sebelum adanya jaminan keamanan yang jelas sebagai strategi yang berisiko tinggi. Di sisi lain, masyarakat Ukraina mulai menunjukkan gejala war fatigue akibat serangan udara tanpa henti, meski dukungan terhadap integritas teritorial tetap kuat.

Analisis mengenai dinamika perundingan dan pergerakan militer ini disusun berdasarkan laporan resmi delegasi di Jenewa serta data operasional dari Kementerian Pertahanan Ukraina dan Federasi Rusia yang dirilis pada 18 Februari 2026.