Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan menyuarakan keraguan mendalam terhadap komitmen Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump terkait penanganan isu nuklir Iran. Keraguan ini muncul menjelang pertemuan krusial antara delegasi Washington dan Teheran yang dijadwalkan pada Kamis, 26 Februari 2026, di Jenewa.
Dinamika Kebijakan Washington
Di Washington, kebijakan Amerika Serikat terhadap program nuklir Iran menunjukkan dinamika internal yang kompleks. Sejumlah penasihat utama Presiden Trump, termasuk Steve Witkoff dan Jared Kushner, dilaporkan mendorong jalur diplomasi sebagai peluang untuk mencapai perjanjian nuklir baru. Namun, faksi lain dalam lingkaran Gedung Putih justru mendesak opsi respons militer jika perundingan tidak menghasilkan kemajuan signifikan.
Kekhawatiran Strategis Israel
Ketidakpastian arah kebijakan Washington ini memicu kekhawatiran serius di Tel Aviv. Mengutip laporan Channel 12 News Israel pada Senin, 23 Februari 2026, seorang sumber yang bertemu Perdana Menteri Netanyahu pekan lalu mengungkapkan kegelisahan sang perdana menteri. Sumber tersebut menirukan pernyataan Netanyahu, “Apakah Trump masih bersama kita? Saya khawatir.” Israel kini berada dalam posisi siaga penuh, memantau secara cermat hasil pembicaraan di Jenewa, mengingat potensi implikasi strategis terhadap keamanan regional.
Tenggat Waktu dan Proposal Nuklir
Sebelumnya, pejabat senior Amerika Serikat pada Minggu, 22 Februari 2026, telah memberikan tenggat waktu 48 jam bagi Iran untuk menyerahkan draf proposal perjanjian nuklir yang mendetail. Teheran diharapkan menyerahkan usulan tersebut paling lambat Selasa, 24 Februari 2026, bertepatan dengan pidato kenegaraan Presiden Trump.
Salah satu usulan yang sedang diperdebatkan oleh pemerintahan Trump dan kepemimpinan Iran berasal dari Rafael Grossi, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Berdasarkan proposal IAEA, Iran akan diizinkan untuk memproduksi sejumlah kecil bahan bakar nuklir untuk keperluan medis. Iran telah memproduksi isotop medis selama bertahun-tahun di Reaktor Penelitian Teheran, sebuah fasilitas berusia hampir 60 tahun yang dipasok oleh AS di bawah program “Atom untuk Perdamaian”.
Namun, masih belum jelas apakah Iran bersedia mengecilkan program nuklir skala besar yang telah menghabiskan miliaran dolar menjadi upaya terbatas. Demikian pula, belum ada kejelasan apakah Presiden Trump akan mengizinkan produksi nuklir terbatas untuk tujuan medis, mengingat deklarasi publiknya mengenai “pengayaan nol” uranium.
Diplomasi Lanjutan
Dalam konteks diplomasi lanjutan, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dijadwalkan terbang ke Israel untuk menemui Perdana Menteri Netanyahu dua hari setelah pertemuan dengan pihak Iran berlangsung. Kunjungan ini diperkirakan akan menjadi upaya untuk meredakan ketegangan dan mengklarifikasi posisi Washington kepada sekutu utamanya di Timur Tengah.
Analisis mengenai dinamika kebijakan ini didasarkan pada laporan media internasional terkemuka, pernyataan resmi dari pejabat pemerintah yang dikutip, serta informasi publik dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang dirilis hingga Selasa, 24 Februari 2026.