Internasional

PM Jepang Sanae Takaichi: Krisis Minyak Global Berdampak Sangat Besar di Indo-Pasifik

Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi menyatakan krisis pasokan minyak global berdampak “sangat besar” bagi kawasan Asia-Pasifik. Pernyataan itu disampaikan Takaichi di Canberra, Australia, seusai pembicaraan dengan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese.

Takaichi mengatakan Jepang dan Australia akan segera merespons situasi tersebut untuk mengamankan pasokan energi yang stabil. Ia menyoroti dampak pembatasan pengiriman minyak di Selat Hormuz terhadap kawasan Indo-Pasifik.

Dampak pembatasan pengiriman di Selat Hormuz

Sekitar seperlima minyak dunia biasanya diangkut melalui Selat Hormuz. Namun, pengiriman di jalur tersebut telah dibatasi oleh Iran sejak diserang oleh Amerika Serikat dan Israel.

Menurut Badan Energi Internasional, 80 persen dari minyak yang melewati Selat Hormuz ditujukan untuk Asia. Kondisi ini memperbesar risiko gangguan pasokan bagi negara-negara di Asia-Pasifik.

“Penutupan Selat Hormuz yang efektif telah menimbulkan dampak yang sangat besar di Indo-Pasifik,” kata pemimpin Jepang tersebut kepada wartawan, dilansir kantor berita AFP, Senin (4/5/2026).

Jepang-Australia sepakat berkomunikasi erat soal energi

Takaichi menegaskan kedua negara akan memperkuat koordinasi dalam merespons situasi pasokan energi global. Menurut dia, Jepang dan Australia akan menjaga komunikasi secara intensif dengan urgensi.

“Kami menegaskan bahwa Jepang dan Australia akan berkomunikasi erat satu sama lain dalam merespons dengan cara urgensi,” ujar Takaichi.

Kedua negara, kata Takaichi, bertujuan memperkuat otonomi dan ketahanan untuk mengamankan pasokan energi yang stabil.

Hubungan pasokan energi dan agenda mineral penting

Australia tercatat sebagai pemasok gas alam cair terbesar ke Jepang. Sementara itu, Jepang disebut menjadi sumber sekitar tujuh persen diesel Australia.

Pemerintah Jepang juga menyatakan ingin memastikan pasokan mineral penting yang stabil. Mineral-mineral tersebut dinilai krusial untuk semikonduktor, baterai kendaraan listrik, dan sistem senjata.

Konteks kerja sama pertahanan Jepang-Australia

Selain isu energi, Australia dan Jepang turut memperkuat hubungan pertahanan. Tahun lalu, kedua negara mencapai kesepakatan senilai Aus$10 miliar (US$6 miliar) bagi Jepang untuk menyediakan kapal perang siluman kelas Mogami kepada angkatan laut Australia.

Pernyataan Takaichi di Canberra menegaskan fokus Jepang dan Australia pada penguatan ketahanan, termasuk menjaga stabilitas pasokan energi di tengah krisis minyak global.