Internasional

PM Takaichi Amankan Mayoritas Dua Pertiga di Parlemen Jepang, Perkuat Mandat Kebijakan Konservatif

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi berhasil meraih kemenangan signifikan dalam pemilihan sela yang diselenggarakan pada Minggu, 8 Februari 2026. Hasil ini secara substansial memperkuat posisinya sebagai pemimpin perempuan pertama di negara tersebut dan memberikan mandat kuat bagi agenda konservatifnya.

Berdasarkan proyeksi hasil pemilu, blok penguasa yang dipimpin Partai Demokrat Liberal (LDP) berhasil mengamankan mayoritas dua pertiga di majelis rendah, dengan menguasai sekitar 300 dari 465 kursi yang diperebutkan. Bersama mitra koalisi, total kursi yang diraih diperkirakan mencapai sedikitnya 310 kursi, sebagaimana dilaporkan oleh AFP. Percepatan pemilu oleh Takaichi terbukti menjadi strategi yang tepat, mengukuhkan dominasi politiknya untuk empat tahun ke depan.

Mandat Politik dan Arah Kebijakan Fiskal

Kemenangan telak ini memberikan Takaichi legitimasi politik yang kokoh untuk mengimplementasikan kebijakan fiskal yang berimbang namun proaktif. Dalam pidato kemenangannya, Takaichi menekankan pentingnya investasi dari sektor publik dan swasta untuk membangun ekonomi yang kuat dan tangguh. Ia juga mengisyaratkan potensi pemotongan pajak dan peningkatan pengeluaran negara, sebuah langkah yang kini dinantikan kejelasannya oleh pasar keuangan di tengah kekhawatiran terhadap utang publik Jepang yang masif.

Dinamika Hubungan Jepang-China di Bawah Takaichi

Kemenangan Takaichi turut memperkuat sorotan terhadap arah kebijakan luar negeri Jepang, khususnya relasi dengan Republik Rakyat China. Takaichi dikenal sebagai figur nasionalis yang memiliki sikap tegas terhadap Beijing. Pada November 2025, pernyataannya mengenai kemungkinan intervensi Jepang jika China menyerang Taiwan sempat memicu kemarahan dari Pemerintah China.

Selain itu, kunjungan Takaichi ke Kuil Yasukuni dan sambutan hangatnya terhadap Presiden AS Donald Trump telah memperkeruh suasana diplomatik. Sebagai respons, China sempat memanggil duta besar Jepang dan menarik kembali dua panda terakhir dari Negeri Sakura pada Januari 2026. Meskipun demikian, Margarita Estevez-Abe, pengamat politik dari Syracuse University, menilai bahwa Takaichi kini memiliki ruang untuk memperbaiki hubungan bilateral. “Sekarang dia tidak perlu khawatir tentang pemilu apa pun hingga 2028. Jadi skenario terbaik bagi Jepang adalah Takaichi mengambil napas dalam-dalam dan fokus memperbaiki hubungan dengan China,” ujarnya kepada AFP.

Profil Konservatif dan Daya Tarik Publik

Terpilihnya Takaichi membawa nuansa baru bagi LDP, yang sebelumnya menghadapi penurunan dukungan akibat isu korupsi dan kenaikan harga. Meskipun menjadi perdana menteri perempuan pertama, ia tetap teguh pada nilai-nilai konservatif, termasuk penentangannya terhadap revisi undang-undang yang mewajibkan pasangan suami-istri di Jepang menggunakan nama keluarga yang sama. Di sisi lain, Takaichi juga memiliki daya tarik personal yang menjangkau generasi muda, dikenal sebagai mantan pemain drum heavy metal dan pengagum Margaret Thatcher, serta sempat viral karena video menari K-pop bersama Presiden Korea Selatan.

Analisis mengenai hasil pemilu ini didasarkan pada proyeksi yang dirilis oleh AFP pada 8 Februari 2026 dan pandangan dari akademisi Syracuse University.