Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara eksplisit mengaitkan perintah serangan militer besar terhadap Iran dengan klaimnya mengenai kekalahan dalam pemilihan umum 2020. Pernyataan ini, yang diunggah di platform media sosialnya, menyoroti dugaan campur tangan Teheran dalam proses demokrasi AS dan memicu pertanyaan tentang motivasi strategis di balik operasi tersebut. Ini merupakan insiden kedua di mana Trump menghubungkan tindakan militer dengan narasi seputar hasil pemilu 2020, setelah sebelumnya membuat komentar serupa terkait operasi di Venezuela.
Latar Belakang Klaim Interferensi Pemilu
Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyatakan, “Iran mencoba ikut campur dalam pemilu 2020 dan 2024 untuk menghentikan Trump, dan sekarang menghadapi perang baru dengan Amerika Serikat.” Pernyataan ini diperkuat dengan pembagian tautan ke artikel dari media daring pro-Trump, Just the News, yang mengklaim bahwa “rezim Iran pada 2020 berupaya melemahkan pencalonan kembali Presiden Trump, dan Joe Biden memenangkan pemilu tersebut.” Artikel tersebut juga menuduh Iran melakukan berbagai upaya campur tangan dalam pemilu 2024, termasuk percobaan pembunuhan.
Laporan intelijen AS telah mengidentifikasi aktivitas Iran yang berpotensi mengganggu proses pemilu. Office of the Director of National Intelligence (ODNI) pada tahun 2024 merilis penilaian yang menyatakan bahwa “aktor siber Iran menggunakan data lebih dari 100.000 pemilih (selama periode pemilu 2020) untuk operasi yang menyamar sebagai Proud Boys.” Selain itu, sebuah pernyataan bersama pada Agustus 2024 dari Federal Bureau of Investigation (FBI), ODNI, dan Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA) di bawah Department of Homeland Security mengamati “aktivitas Iran yang semakin agresif dalam siklus pemilu ini.”
Motivasi Strategis dan Pernyataan Resmi
Sebelumnya, dalam pesan video yang dirilis segera setelah serangan dimulai, Trump membatasi penjelasannya atas keputusan menyerang Iran pada risiko terkait upaya negara itu mengejar senjata nuklir. Ia berargumen, “Mereka menempatkan Amerika Serikat, pasukan kami, pangkalan luar negeri, dan sekutu di seluruh dunia dalam bahaya langsung.” Namun, pengaitan serangan tersebut dengan narasi pemilu kemudian menimbulkan spekulasi mengenai faktor-faktor pendorong di luar ancaman keamanan nasional konvensional.
Komentar serupa juga pernah disampaikan Trump pada Januari lalu, beberapa hari setelah ia memerintahkan operasi Delta Force terhadap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Pola ini mengindikasikan adanya kecenderungan untuk mengintegrasikan isu-isu domestik dan politik internal AS ke dalam justifikasi tindakan militer di panggung global.
Analisis mengenai pergerakan militer ini didasarkan pada pernyataan resmi Presiden Trump di platform Truth Social, laporan intelijen publik dari Office of the Director of National Intelligence (ODNI), serta pernyataan bersama dari Federal Bureau of Investigation (FBI), ODNI, dan Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA) yang dirilis pada Agustus 2024.