Proyek militer Nantianmen China, atau “Gerbang Surgawi Selatan,” telah memantik perhatian luas sebagai inisiatif yang memadukan fiksi ilmiah bertema militer dengan spekulasi teknologi tinggi. Diluncurkan pada 2017 oleh anak usaha Aviation Industry Corporation of China (Avic), proyek ini mencerminkan rivalitas strategis yang intens antara China dan Amerika Serikat (AS) di sektor antariksa dan pertahanan.
Meskipun awalnya bukan program pengembangan senjata aktif, Nantianmen diperkenalkan sebagai kekayaan intelektual (IP) fiksi ilmiah yang menampilkan lebih dari 100 konsep persenjataan futuristik. Konsep-konsep ini meliputi kapal induk antariksa strategis berukuran raksasa, pesawat tempur hipersonik, dan kawanan robot taktis otonom, yang maket skala besarnya dipamerkan dalam ajang pertahanan utama China.
Konsep dan Latar Belakang Proyek
Secara naratif, Proyek Nantianmen mengangkat kisah umat manusia yang menghadapi invasi alien pada tahun 2043. Dalam alur cerita novel yang terbit pada 2022, AS digambarkan gagal dalam ekspedisi antarbintangnya, sementara China membangun pangkalan Bulan sebagai bagian dari sistem pertahanan Bumi-Bulan terintegrasi bernama Proyek Nantianmen.
Novel ini ditulis oleh Wu Jun (nama pena Yelanghuan), seorang novelis web yang dikenal dengan tema fiksi ilmiah dan fantasi militer. Latar belakang mitologis “Gerbang Surgawi Selatan” dalam mitologi China digunakan untuk menggambarkan ambisi Beijing dalam membangun dominasi ruang udara terintegrasi.
Spekulasi Teknologi dan Implikasi Strategis
Perhatian publik terhadap proyek ini lebih terfokus pada konsep persenjataan yang ditampilkan. Lebih dari 100 unit platform dirinci melalui skema dan cetak biru dalam Buku Seni Proyek Nantianmen, yang maketnya dipajang berdampingan dengan sistem persenjataan nyata China.
Pada Zhuhai Airshow 2024, model pesawat tempur fiktif Baidi tampil bersamaan dengan debut jet tempur siluman generasi kelima J-35A. Media pemerintah CCTV pada Januari 2026 bahkan menyebut desain tersebut mencerminkan realitas, memicu perdebatan apakah desain itu murni fiksi atau indikasi tren teknologi aktual.
Sejumlah pengamat menilai beberapa konsep mencerminkan tren teknologi global, seperti penerbangan hipersonik, propulsi antariksa mode ganda, siluman berbasis metamaterial, pesawat berubah bentuk, kawanan otonom, pengambilan keputusan taktis berbasis kecerdasan buatan, senjata energi terarah, serta sistem antariksa-ke-Bumi yang dapat digunakan kembali.
Pakar militer Wang Zhiming menyatakan, “Pertanyaan tentang teknologi ini bukanlah apakah teknologi tersebut dapat dicapai, tetapi mana yang akan datang lebih dulu dan kapan semuanya akan sepenuhnya terwujud.” Analis militer Hong Kong, Song Zhongping, menambahkan bahwa sejumlah teknologi seperti sinar partikel dan senjata hipersonik telah dipraktikkan, dan proyek ini dapat dipandang sebagai tahap eksplorasi perbatasan dengan rentang realisasi 20-30 tahun.
Keterkaitan dengan Avic dan Ekspansi Komersial
Sorotan terhadap proyek ini juga terkait dengan entitas di baliknya, Avic Global Culture Technology Co, anak perusahaan Avic. Keterkaitan dengan konglomerat pertahanan negara memicu spekulasi bahwa konsep dalam proyek tersebut mungkin mencerminkan atau bahkan meramalkan kemajuan militer rahasia China.
Perusahaan ini, yang memiliki modal terdaftar 25 juta yuan (sekitar Rp 61,16 miliar) dan sekitar 40 karyawan, bergerak di bidang budaya dan teknologi. Pada pertengahan 2025, namanya berubah dan terdaftar di Beijing Equity Trading Centre. Pada tahun yang sama, perusahaan menandatangani kesepakatan untuk membangun taman hiburan Proyek Nantianmen di Shanghai dan Meizhou, Guangdong.
Pangkalan Meizhou dijadwalkan dibuka bulan depan dengan konsep replika interior kapal induk antariksa seluas 1.600 meter persegi. Pangkalan Shanghai, seluas lebih dari 80.000 meter persegi, diperkirakan selesai akhir tahun ini dan direncanakan dibuka pada 1 Agustus 2027, bertepatan dengan peringatan 100 tahun PLA. Pemimpin redaksi perusahaan, Ding Li, menyatakan proyek ini bertujuan membangun “ULTRAVIC Universe” yang memadukan teknologi industri pertahanan mutakhir dengan penceritaan imajinatif.
Song Zhongping menilai, taman hiburan ini berfungsi untuk pariwisata sekaligus pendidikan patriotik dan pertahanan nasional, memberikan sinyal visi masa depan kepada publik dan pratinjau cetak biru untuk pengembangan ilmu dan teknologi militer di masa depan.
Konsep Persenjataan Utama
Dalam narasi Proyek Nantianmen, terdapat tiga elemen utama pertahanan China:
- Kapal Induk Kedirgantaraan Luanniao: Memiliki bentang sayap 682 meter, panjang 242 meter, dua reaktor fusi nuklir, dan 38 mesin hibrida. Dengan berat lepas landas maksimum 129.900 ton, kapal ini mampu membawa 88 pesawat Xuannu ke orbit hingga 42.000 kilometer.
- Pesawat Tempur Xuannu: Dilengkapi meriam partikel dan sinar laser, memiliki kecepatan lebih dari Mach 8, serta akselerasi lebih dari 40 G. Tersedia dalam versi berawak dan tak berawak dengan konsep tim berawak-tak berawak.
- Robot Taktis Chengying: Digambarkan sebagai ekosistem tempur darat terpadu, di mana unit komando berawak (Shadow Bearer) mengendalikan pasukan robot tak berawak untuk misi tempur, pengintaian, komunikasi, dan dukungan tembakan. Drone dapat melakukan serangan terkoordinasi menggunakan kecerdasan kawanan jika koneksi terputus.
Selain itu, terdapat pesawat Baidi dengan kemampuan siluman spektrum penuh dan mesin adaptif, platform lepas landas dan pendaratan vertikal (VTOL) Zihuo dengan kecepatan jelajah 700-800 km per jam, serta robot transportasi Langzhu berkaki enam dengan sistem trek.
Respons Amerika Serikat
Editor senior The National Interest, Brandon Weichert, menyebut proyek tersebut sebagai “Star Wars versi China.” Ia membandingkannya dengan Inisiatif Pertahanan Strategis (SDI) era Presiden Ronald Reagan, memperingatkan AS agar tidak mengabaikan ancaman teknologi tinggi China, namun juga tidak tertipu oleh operasi psikologis yang dirancang untuk menjatuhkan mereka.
Kepala Angkatan Luar Angkasa AS, Jenderal B Chance Saltzman, sebelumnya menyatakan bahwa pihaknya terus berupaya mempertahankan prioritas luar angkasa di tengah kemajuan pesat China. Ia menyebut Beijing berinvestasi besar-besaran dalam senjata energi terarah, senjata frekuensi radio, dan senjata kinetik berbasis darat maupun luar angkasa.
Weichert menilai Proyek Nantianmen dapat menjadi propaganda sekaligus benih teknologi nyata. Ia menyarankan Pemerintah AS untuk mengawasi proyek ini, bukan karena akan segera masuk ke layanan militer China, tetapi karena semua teknologi mutakhir yang mendasarinya kemungkinan akan didorong maju dengan kecepatan luar biasa.
Analisis mengenai Proyek Nantianmen ini didasarkan pada laporan media internasional, pernyataan resmi dari entitas terkait, serta pandangan dari analis militer dan pakar teknologi pertahanan yang dipublikasikan hingga Minggu, 22 Februari 2026.