Internasional

Publik Barat: Kekhawatiran Perang Dunia III Meningkat Signifikan di Tengah Dilema Anggaran Pertahanan

Mayoritas masyarakat di negara-negara Barat menunjukkan peningkatan kekhawatiran yang signifikan terhadap risiko pecahnya Perang Dunia III. Sebuah survei yang dilakukan oleh Politico pada Februari 2026 mengungkapkan bahwa responden di Amerika Serikat (AS), Kanada, Inggris, dan Perancis secara kolektif meyakini bahwa konflik global lebih mungkin terjadi dalam lima tahun ke depan.

Pergeseran persepsi ini menandai era baru ketidakamanan global, di mana aliansi tradisional mulai dipertanyakan dan investasi pertahanan menghadapi resistensi publik.

Pergeseran Persepsi Ancaman Global

Survei Politico, yang melibatkan lebih dari 2.000 pemilih di AS, Kanada, Inggris, Perancis, dan Jerman, menyoroti bahwa dunia kini dianggap sebagai tempat yang jauh lebih tidak aman. Kekhawatiran akan konflik global ini meningkat tajam dibandingkan hasil jajak pendapat serupa yang dilakukan oleh lembaga independen Public First pada Maret 2025.

“Perubahan sikap publik Barat dalam kurun waktu kurang dari satu tahun mencerminkan pergeseran dramatis menuju dunia yang lebih tidak aman, di mana perang dianggap mungkin terjadi dan aliansi terasa tidak stabil,” ujar Seb Wride, Kepala Polling di Public First.

Di Inggris, 43 persen responden meyakini perang dunia baru “mungkin” atau “sangat mungkin” pecah pada 2031, naik signifikan dari 30 persen pada tahun sebelumnya. Angka serupa mencapai 46 persen di AS. Dari lima negara yang disurvei, hanya masyarakat Jerman yang secara umum masih beranggapan bahwa perang global ketiga tidak akan terjadi dalam lima tahun ke depan, menunjukkan perbedaan persepsi di antara negara-negara anggota NATO.

Dilema Anggaran Pertahanan di Tengah Eskalasi

Meskipun kekhawatiran akan perang meningkat, hasil jajak pendapat menunjukkan adanya kontradiksi terkait pembiayaan militer. Walaupun secara prinsip publik mendukung peningkatan anggaran pertahanan, dukungan tersebut merosot tajam ketika dihadapkan pada konsekuensi ekonomi nyata. Banyak responden yang keberatan jika peningkatan anggaran militer harus dibayar dengan cara menambah utang negara, memotong layanan publik lainnya, atau menaikkan pajak.

“Polling kami menunjukkan bahwa meningkatnya kekhawatiran tentang perang tidak memberikan mandat bagi para pemimpin untuk berbelanja besar-besaran di sektor pertahanan,” kata Wride.

Situasi ini menempatkan para pemimpin Eropa dalam posisi sulit. Mereka tidak bisa sepenuhnya mengandalkan AS untuk jaminan keamanan, namun di sisi lain, mereka menghadapi tekanan publik yang menolak investasi domestik substansial untuk keamanan militer. Ini berpotensi melemahkan kapasitas deterensi kolektif di tengah dinamika geopolitik yang memanas.

Identifikasi Ancaman: Rusia, AS, dan Senjata Nuklir

Terkait persepsi ancaman, Rusia masih dianggap sebagai ancaman terbesar bagi perdamaian di Eropa. Namun, temuan unik muncul di Kanada, di mana responden justru melihat AS di bawah kepemimpinan Donald Trump sebagai bahaya terbesar bagi keamanan negara itu. Di Perancis, Jerman, dan Inggris, AS juga disebut sebagai ancaman terbesar kedua, melampaui kekhawatiran mereka terhadap China.

Kondisi ini mencerminkan keraguan publik terhadap stabilitas kebijakan luar negeri AS dan potensi pergeseran aliansi. Kekhawatiran terhadap penggunaan senjata pemusnah massal juga nyata; setidaknya satu dari tiga orang di AS, Inggris, Perancis, dan Kanada percaya bahwa senjata nuklir sangat mungkin digunakan dalam konflik dalam lima tahun ke depan, mengindikasikan eskalasi risiko strategis.

Analisis mengenai persepsi publik ini didasarkan pada hasil survei Politico yang dirilis pada Jumat, 13 Februari 2026, serta data komparatif dari Public First pada Maret 2025.