SAN FRANCISCO – Samsung Electronics secara resmi menunjuk Asia Tenggara sebagai episentrum strategis bagi pengembangan dan lokalisasi teknologi kecerdasan buatan (AI) mereka, khususnya Galaxy AI. Pernyataan ini disampaikan oleh TM Roh, President dan Head of Mobile eXperience (MX) Business Samsung Electronics, dalam sesi wawancara eksklusif dengan media Asia Tenggara di sela-sela acara Galaxy Unpacked pada Rabu, 25 Februari 2026. Roh menyoroti antusiasme dan keterbukaan wilayah ini terhadap inovasi sebagai fondasi utama visi tersebut.
Strategi Pengembangan AI Regional dan Lokalisasi
Visi Samsung untuk menjadikan Asia Tenggara sebagai pusat AI didasarkan pada data internal yang menunjukkan adopsi AI yang masif. Survei Samsung mengungkapkan bahwa 9 dari 10 anak muda di Asia Tenggara secara aktif menggunakan fitur AI pada ponsel mereka setiap hari, dan 7 dari 10 responden percaya bahwa AI akan secara signifikan meningkatkan kualitas hidup mereka. Untuk mendukung pertumbuhan ini, Samsung telah mengoperasikan tiga pusat penelitian dan pengembangan (R&D) di Indonesia, Vietnam, dan Filipina.
Fasilitas R&D ini memiliki peran krusial dalam melokalisasi Galaxy AI, memastikan fitur-fitur tersebut relevan dengan konteks bahasa dan lingkungan budaya spesifik di setiap wilayah. TM Roh menegaskan komitmen Samsung untuk terus memperkuat kapabilitas tim R&D lokal guna menghadirkan pengalaman pengguna yang lebih personal dan relevan bagi konsumen di Asia Tenggara dan Oseania. Selain itu, fitur AI Samsung tidak hanya terbatas pada lini smartphone, melainkan diperluas ke seluruh ekosistem perangkat, termasuk televisi pintar dan peralatan rumah tangga, menciptakan pengalaman terhubung yang holistik.
Adopsi Fitur Unggulan dan Proyeksi Pasar
TM Roh juga menyoroti peningkatan penggunaan fitur AI di perangkat Samsung, baik melalui Galaxy AI maupun integrasi dengan mitra seperti Google Gemini. Di antara fitur-fitur yang paling banyak diadopsi di Asia Tenggara adalah Circle to Search dan Photo Assist. Circle to Search memungkinkan pengguna untuk menelusuri informasi secara instan hanya dengan melingkari objek apa pun yang muncul di layar ponsel, memberikan kemudahan akses informasi yang revolusioner. Sementara itu, Photo Assist menawarkan kemampuan pengeditan foto berbasis AI yang canggih dan intuitif, seperti menambahkan aksesori melalui sketsa atau menghapus objek yang tidak diinginkan dari gambar dengan presisi tinggi.
Dalam kesempatan yang sama, CU Kim, President & CEO Samsung Electronics untuk Asia Tenggara dan Oseania (SEAO), mengungkapkan data pertumbuhan perangkat Galaxy yang dilengkapi AI. Pada tahun 2025, jumlah perangkat Galaxy ber-AI telah mencapai 400 juta unit secara global, meningkat dua kali lipat dari 200 juta unit pada tahun sebelumnya. Samsung menargetkan peningkatan signifikan menjadi 800 juta unit pada tahun 2026. Target ambisius ini didukung oleh populasi mobile-first yang besar di Asia Tenggara serta tingkat penggunaan media sosial yang sangat tinggi di wilayah tersebut. CU Kim juga menekankan upaya Samsung untuk mendemokratisasikan akses ke fitur AI premium, dengan memperluas ketersediaannya tidak hanya pada seri Galaxy S, tetapi juga pada lini Galaxy A, memastikan lebih banyak pengguna dapat merasakan manfaat inovasi AI.