Internasional

Rusia dan China: Kecam Keras Serangan Militer AS-Israel di Iran yang Tewaskan Pemimpin Tertinggi Khamenei

Serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang mengakibatkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, memicu kecaman keras dari Rusia dan China. Kedua kekuatan global tersebut secara serentak mengecam aksi ini sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan memperingatkan potensi eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan.

Reaksi Rusia: Pelanggaran Norma Moral dan Hukum Internasional

Presiden Rusia, Vladimir Putin, dalam surat belasungkawa kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian, menyebut pembunuhan Khamenei sebagai tindakan “sinis” yang melanggar norma moral dan hukum internasional. Pernyataan Kremlin pada Minggu (1/3/2026) menggarisbawahi kontribusi signifikan Khamenei dalam mempererat hubungan bilateral Rusia-Iran, termasuk penandatanganan perjanjian kemitraan strategis pada tahun 2025 yang mencakup kerja sama militer. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov juga telah berkomunikasi dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, menegaskan kembali posisi Moskwa yang melihat serangan tersebut sebagai “eksplorasi berbahaya” yang berpotensi memicu “bencana” di kawasan.

Reaksi China: Agresi Tak Dapat Diterima dan Desakan Dialog

Senada dengan Rusia, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menyatakan bahwa serangan AS dan Israel di Iran, terutama di tengah proses negosiasi, adalah tindakan yang “tidak dapat diterima.” Wang Yi, dalam pembicaraannya dengan Sergei Lavrov, menggarisbawahi bahwa pembunuhan terang-terangan terhadap pemimpin negara berdaulat dan upaya memicu perubahan rezim merupakan pelanggaran serius. Pemerintah China mendesak penghentian segera aksi militer, kembali ke jalur dialog dan negosiasi, serta menolak tindakan sepihak. Kantor berita pemerintah China, Xinhua, bahkan menyebut serangan tersebut sebagai “agresi terang-terangan terhadap negara berdaulat” dan bentuk politik kekuasaan yang melanggar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Dampak Regional dan Global: Evakuasi dan Gangguan Penerbangan

Eskalasi konflik ini telah menimbulkan dampak signifikan terhadap keamanan regional dan mobilitas global. Kedutaan Besar China di Israel mengimbau warganya untuk segera meninggalkan wilayah berisiko atau berpindah ke area yang lebih aman. Seruan serupa juga ditujukan kepada warga negara China di Iran untuk segera keluar melalui jalur darat menuju Azerbaijan, Armenia, Turki, atau Irak. Sektor penerbangan turut merasakan imbasnya, dengan Cathay Group yang berbasis di Hong Kong menghentikan sementara operasional di Timur Tengah, termasuk penerbangan ke dan dari Dubai serta Riyadh, serta mengalihkan rute penerbangan untuk menghindari wilayah konflik. Sejumlah maskapai lain juga dilaporkan membatalkan atau menyesuaikan jadwal penerbangan, mencerminkan peningkatan ketegangan di kawasan yang mengganggu stabilitas internasional.

Implikasi Strategis dan Hukum Internasional

Insiden ini menyoroti kerentanan kedaulatan teritorial dan prinsip non-intervensi dalam urusan internal negara lain, yang merupakan pilar hukum internasional. Kecaman dari Rusia dan China, dua anggota tetap Dewan Keamanan PBB, mengindikasikan perpecahan mendalam dalam tatanan geopolitik global terkait interpretasi dan penegakan hukum internasional. Peristiwa ini berpotensi memperdalam polarisasi antara blok Barat dan aliansi yang dipimpin oleh Rusia-China, serta memicu perlombaan senjata dan konsolidasi aliansi pertahanan di Timur Tengah dan sekitarnya.

Analisis mengenai respons internasional ini didasarkan pada pernyataan resmi Kremlin dan Kementerian Luar Negeri China yang dirilis pada Minggu (1/3/2026), serta laporan dari kantor berita TASS dan Xinhua.