Internasional

Rusia Kecam Agresi AS-Israel di Iran, Putin Tawarkan Mediasi Intensif di Timur Tengah

Presiden Rusia Vladimir Putin telah menawarkan diri sebagai mediator untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah menyusul serangkaian serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Dalam percakapan telepon dengan para pemimpin negara-negara Teluk pada Senin, 2 Maret 2026, Putin secara tegas mengutuk serangan tersebut, menggambarkannya sebagai tindakan agresi. Kremlin bahkan menyebut aksi militer Washington dan Tel Aviv sebagai “agresi tanpa provokasi,” di tengah situasi yang memanas di kawasan.

Inisiatif Diplomatik Moskwa

Moskwa menyatakan tetap menjalin kontak intensif dengan kepemimpinan Iran, sekaligus memperluas jangkauan diplomatiknya ke negara-negara Teluk. Putin berbicara melalui sambungan telepon dengan Presiden Uni Emirat Arab Mohammed bin Zayed Al Nahyan, Raja Bahrain Hamad bin Isa Al Khalifa, serta Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani. Dalam rangkaian pembicaraan tersebut, Putin menawarkan untuk memanfaatkan hubungan dekat Moskwa dengan Teheran guna membantu memulihkan ketegangan.

Menurut keterangan resmi Kremlin terkait percakapan dengan Mohammed bin Zayed, Putin menawarkan diri sebagai penghubung untuk menyampaikan keluhan Uni Emirat Arab kepada Teheran atas serangan yang mereka alami. Kedua pihak menekankan perlunya gencatan senjata segera dan kembali ke proses politik dan diplomatik. Saat berbicara dengan Emir Qatar, Kremlin menyebut kedua pemimpin menyampaikan kekhawatiran atas meluasnya konflik dan risiko keterlibatan negara-negara lain. Kepada Raja Bahrain, Putin menyatakan bahwa Rusia siap melakukan segala upaya untuk menstabilkan situasi di kawasan.

Dinamika Konflik Regional

Negara-negara di Teluk, yang merupakan sekutu dekat Amerika Serikat, dilaporkan menjadi sasaran serangan drone dan rudal Iran sejak Washington dan Israel melancarkan serangan udara pada Sabtu, 28 Februari 2026. Situasi ini memperbesar risiko eskalasi regional yang lebih luas, memicu kekhawatiran akan destabilisasi keamanan di salah satu jalur pelayaran dan energi paling vital di dunia.

Kepentingan Strategis Rusia

Kremlin sebelumnya menyatakan bahwa Moskwa terus melakukan kontak konstan dengan kepemimpinan Iran. Rusia memandang kemitraan strategisnya dengan Teheran sebagai elemen penting untuk mempertahankan pengaruhnya di Timur Tengah, terutama setelah dinamika kekuatan regional berubah. Di satu sisi, Rusia berpotensi diuntungkan dari kenaikan harga minyak global dan kemungkinan beralihnya fokus Washington dari konflik di Ukraina.

Namun, operasi militer AS-Israel dinilai bertentangan dengan keinginan Moskwa untuk mendorong tatanan dunia multipolar di mana Amerika Serikat tidak mendominasi. Kementerian Luar Negeri Rusia menuduh AS dan Israel telah menyeret Timur Tengah “ke dalam jurang eskalasi yang tak terkendali.” Meski demikian, Moskwa juga berhati-hati agar tidak merenggangkan hubungan dengan pemerintahan Presiden AS Donald Trump, yang tengah menjadi perantara pembicaraan damai terkait Ukraina. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan, “Kami memiliki kepentingan kami sendiri yang harus kami lindungi, dan menjadi kepentingan kami untuk melanjutkan negosiasi ini (mengenai Ukraina).”

Analisis mengenai inisiatif diplomatik Rusia ini didasarkan pada pernyataan resmi Kremlin yang dirilis pada 2 Maret 2026, serta laporan dari berbagai kantor berita internasional mengenai dinamika konflik di Timur Tengah.