Moskwa secara tegas mengecam kebijakan Amerika Serikat yang disebutnya ‘mencekik’ ekonomi Kuba, menyusul krisis bahan bakar parah yang melanda negara kepulauan tersebut. Pemerintah Rusia, melalui juru bicara Kremlin Dmitry Peskov, pada Senin (9/2/2026) menegaskan komitmennya untuk mendukung Kuba dan Venezuela, sembari menentang segala bentuk intervensi militer.
Pernyataan Peskov ini muncul di tengah situasi kritis di Kuba, di mana kelangkaan bahan bakar telah mengganggu layanan vital dan penerbangan internasional. Rusia menyatakan akan terus menjalin kontak intensif dengan Havana untuk mencari solusi atau setidaknya memberikan bantuan yang memungkinkan.
Latar Belakang Krisis dan Kebijakan Sanksi AS
Krisis di Kuba memuncak setelah pemerintahan Presiden AS Donald Trump menetapkan negara tersebut sebagai ancaman luar biasa bagi keamanan nasional Amerika Serikat. Washington kemudian memutus pasokan minyak dari Venezuela ke Kuba, menyusul operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro bulan lalu.
Tidak hanya itu, Amerika Serikat juga mengancam akan mengenakan tarif bagi pemasok lain, termasuk Meksiko, jika mereka tetap mengirimkan bahan bakar ke Kuba. Peskov menilai langkah-langkah Washington tersebut sebagai bentuk tekanan yang tidak adil dan taktik ‘mencekik’ yang menyebabkan kesulitan besar bagi negara tersebut.
Dampak Strategis pada Sektor Transportasi dan Logistik
Konsekuensi dari krisis bahan bakar ini mulai terasa di sektor transportasi udara. Pemerintah Kuba telah memperingatkan maskapai internasional bahwa bahan bakar jet tidak akan tersedia lagi di pulau tersebut mulai Selasa (10/2/2026).
Menanggapi peringatan tersebut, maskapai Air Canada pada Senin (9/2/2026) mengumumkan penangguhan seluruh penerbangan ke Kuba. Kelangkaan ini juga menimbulkan kekhawatiran bagi wisatawan, termasuk warga Rusia, yang berencana meninggalkan negara tersebut. Sebelumnya, pada Jumat (30/1/2026), Pemerintah Kuba menyatakan tengah berupaya menavigasi krisis dengan melakukan penjatahan bahan bakar demi melindungi layanan-layanan esensial.
Solidaritas Moskwa dan Penolakan Intervensi Asing
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menegaskan kembali posisi Moskwa yang menentang praktik neo-kolonialisme dan langkah-langkah paksaan sepihak dari negara-negara Barat. Dalam pesan resmi di laman kementeriannya, Lavrov menyatakan fokus Rusia tetap pada upaya melawan praktik koersif sepihak hingga intervensi militer.
Lavrov menambahkan bahwa Rusia memiliki keyakinan penuh pada kedaulatan Kuba dan Venezuela, serta menegaskan solidaritas dengan rakyat kedua negara. Duta Besar Rusia untuk Kuba, Viktor Coronell, mengonfirmasi bahwa Moskwa telah berulang kali memasok minyak ke Kuba dalam beberapa tahun terakhir dan berkomitmen untuk melanjutkan dukungan tersebut di masa depan.
Analisis mengenai dinamika geopolitik ini didasarkan pada pernyataan resmi Kremlin, Kementerian Luar Negeri Rusia, dan laporan media internasional yang dirilis hingga Rabu, 11 Februari 2026.