Moskwa dan Havana mengonfirmasi rencana pengiriman pasokan minyak dan produk petroleum dari Rusia ke Kuba sebagai bantuan kemanusiaan. Langkah ini diambil di tengah krisis energi terparah yang melanda Kuba dalam beberapa tahun terakhir, sebuah situasi yang diperparah oleh embargo perdagangan Amerika Serikat yang telah berlangsung lebih dari enam dekade. Kremlin, sekutu tradisional Kuba, pada Senin (9/2/2026) secara terbuka menuduh Washington berupaya “mencekik” negara kepulauan tersebut melalui kebijakan blokadenya.
Krisis Energi dan Langkah Penghematan Ekstrem di Kuba
Krisis bahan bakar di Kuba telah mencapai titik kritis, memaksa pemerintah untuk memberlakukan serangkaian langkah penghematan ekstrem. Wakil Perdana Menteri Kuba, Oscar Perez-Oliva Fraga, pada Jumat (6/2/2026) mengumumkan kebijakan darurat yang mencakup pengurangan jam kerja bagi perusahaan milik negara menjadi empat hari seminggu, pemangkasan transportasi antarprovinsi, penutupan fasilitas pariwisata utama, serta pemendekan jam sekolah dan pengurangan persyaratan kehadiran tatap muka di universitas. Prioritas alokasi bahan bakar akan diarahkan pada layanan esensial, kesehatan publik, produksi pangan, dan pertahanan nasional, seiring dengan dorongan untuk mempercepat penggunaan energi terbarukan berbasis tenaga suria. Pemerintah Kuba menegaskan komitmennya untuk mengatasi tantangan ini, menyatakan, “Ini adalah peluang dan tantangan yang kami yakin akan kami atasi. Kami tidak akan runtuh,” seperti dikutip dari Aljazeera pada Minggu (8/2/2026).
Respons Rusia dan Implikasi Geopolitik
Kementerian Pembangunan Ekonomi Rusia mengonfirmasi kepada AFP pada Kamis (12/2/2026) bahwa pasokan minyak dan produk petroleum akan segera dikirim ke Kuba. Dukungan ini menggarisbawahi hubungan historis antara kedua negara di tengah tekanan geopolitik yang meningkat. Krisis bahan bakar di Kuba juga berdampak pada sektor penerbangan internasional, termasuk maskapai Rusia. Regulator penerbangan federal Rusia, Rosaviatsia, menyatakan bahwa kesulitan pengisian bahan bakar telah memaksa Rossiya Airlines dan Nordwind Airlines untuk menyesuaikan jadwal penerbangan mereka ke Kuba. Rossiya Airlines kini hanya akan mengoperasikan penerbangan pulang-pergi terbatas dari Havana dan Varadero ke Moskwa untuk mengevakuasi sekitar 5.000 wisatawan Rusia yang diperkirakan masih berada di pulau itu, menurut Asosiasi Operator Tur Rusia.
Informasi ini dihimpun dari laporan media Izvestia, pernyataan resmi Kementerian Pembangunan Ekonomi Rusia, Kremlin, Rosaviatsia, serta kutipan dari AFP dan Aljazeera yang dirilis antara 8 hingga 12 Februari 2026.