Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) pada Senin (9/2/2026) mengklaim telah mengidentifikasi dan menangkap pelaku penembakan terhadap perwira tinggi intelijen militer Jenderal Vladimir Alekseyev di Moskwa. FSB menuduh operasi ini dikendalikan langsung oleh dinas keamanan Ukraina (SBU), menandai potensi eskalasi signifikan dalam perang intelijen di luar zona konflik.
Jenderal Alekseyev dilaporkan ditembak beberapa kali di lobi apartemennya di Moskwa pada Jumat (6/2/2026) dan saat ini masih menjalani perawatan intensif. Insiden ini menyoroti kerentanan keamanan domestik Rusia di tengah konflik yang sedang berlangsung.
Detail Operasi dan Penangkapan
FSB mengidentifikasi pelaku penembakan sebagai Lyubomir Korba, seorang warga negara Rusia. Korba ditangkap di Dubai, Uni Emirat Arab, akhir pekan lalu dan kemudian diekstradisi ke Rusia. Menurut pernyataan FSB, Korba direkrut dan dilatih di Kyiv oleh SBU dengan janji pembayaran sebesar 30.000 dollar AS (sekitar Rp 504 juta) untuk melancarkan serangan tersebut.
Proses perekrutan Korba diduga terjadi di Ternopil, Ukraina, tahun lalu, sebelum ia dikirim ke Rusia melalui rute Moldova dan Georgia. FSB juga mencurigai keterlibatan putra Korba yang berdomisili di Polandia dalam proses rekrutmen ini.
“Pada hari pembunuhan itu, Korba masuk ke gedung tempat tinggal anggota militer tersebut, menunggu hingga ia muncul di lobi lift dan menembaknya empat kali,” kata FSB dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari AFP, Senin (9/2/2026).
Keterlibatan Aktor Pendukung
Penyelidikan FSB juga mengungkap adanya dua kaki tangan yang membantu Korba dalam operasi ini: Viktor Vasin dan Zinaida Serebritskaya. Serebritskaya diduga menyewa sebuah apartemen di gedung yang sama dengan Jenderal Alekseyev dan menyediakan kartu akses masuk bagi Korba. Sementara itu, Vasin dilaporkan menyewa sebuah apartemen untuk Korba di Moskwa dan membantu merencanakan pergerakannya. FSB menuduh Vasin sebagai pendukung mendiang pemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny, mengindikasikan potensi motif politik internal.
Reaksi dan Implikasi Strategis
Pihak Ukraina, melalui juru bicaranya, telah mengeklaim bertanggung jawab atas beberapa pembunuhan di wilayah Rusia sejak dimulainya invasi skala penuh. Namun, mereka secara spesifik membantah berada di balik upaya pembunuhan terhadap Jenderal Alekseyev. Presiden Rusia Vladimir Putin belum memberikan komentar resmi mengenai insiden ini, meskipun Kremlin pekan lalu mengakui bahwa para pejabat militer di Rusia berada di bawah ancaman selama operasi militer di Ukraina.
Insiden penembakan terhadap seorang jenderal intelijen di ibu kota Rusia ini menggarisbawahi intensitas perang bayangan antara kedua negara. Ini juga memicu pertanyaan tentang efektivitas kontra-intelijen Rusia dalam melindungi aset-aset strategis di wilayah domestik, serta potensi dampak terhadap moral dan operasional militer.
Analisis mengenai insiden ini didasarkan pada pernyataan resmi Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) dan laporan dari kantor berita Agence France-Presse (AFP) yang dirilis pada Senin, 9 Februari 2026.