Internasional

Rusia: Perusahaan Neuroteknologi Uji Coba Bio-Drone Merpati ‘Cyborg’ di Tengah Kekhawatiran Militer Global

Perusahaan neuroteknologi asal Rusia, Neiry, mengumumkan uji coba nyata terhadap proyek bio-drone mereka yang melibatkan burung merpati hidup. Proyek ini mengintegrasikan saraf antarmuka (neural interface) sebagai sistem pemandu, sebuah inovasi yang memicu kekhawatiran signifikan mengenai potensi penyalahgunaan militer dan implikasi strategis global.

Uji coba tersebut dilakukan oleh tim di kantor Moskwa dan Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), dengan evaluasi penerbangan yang berlangsung di Rusia serta negara-negara tetangga. Inisiatif ini bertujuan untuk mengatasi keterbatasan drone mekanis konvensional, khususnya dalam hal jangkauan operasional, kapasitas beban, dan daya tahan baterai.

Inovasi Bio-Drone Neiry dan Mekanisme Operasional

Sistem bio-drone Neiry bekerja dengan memberikan stimulasi terarah kepada burung untuk mengikuti rute yang telah ditetapkan. Pada tahap awal, merpati dipasangi alat pengendali berukuran kecil, panel surya pada bagian punggung untuk sumber daya, serta kamera yang berfungsi serupa dengan kamera pengawas.

Neiry mengeklaim bahwa sistem tersebut mampu menyaring detail identitas secara langsung pada perangkat guna mematuhi aturan privasi setempat. Di laman resminya, Neiry menyatakan misi utama mereka: “Viva Homo Perfectus: Advancing the next stage of human evolution with neurotechnology”, merujuk pada konsep transhumanisme yang berfokus pada peningkatan kemampuan biologis manusia melalui teknologi.

Sebelum menguji coba pada burung, Neiry dilaporkan telah melakukan implantasi elektroda pada sapi. Proyek tersebut bertujuan untuk menstabilkan produksi susu dengan mengatur nafsu makan, tingkat stres, dan aktivitas sapi, sebuah prosedur yang dilakukan di unit bedah saraf seluler dalam waktu sekitar 30 menit.

Potensi Dual-Use dan Kekhawatiran Militer

Meskipun Neiry bersikeras bahwa teknologi ini ditujukan untuk sektor logistik, pertanian, utilitas, dan tanggap darurat, para ahli pertahanan memperingatkan adanya risiko penyalahgunaan militer yang besar. James Giordano, penasihat sains Pentagon sekaligus profesor emeritus neurologi di Universitas Georgetown, menyatakan kekhawatirannya kepada Bloomberg.

Giordano secara spesifik menyebut bahwa bio-drone ini dapat digunakan sebagai alat pemapar penyakit. “Bio-drone tersebut dapat dengan mudah digunakan untuk mentransmisikan penyakit ke wilayah musuh,” ujar Giordano, menyoroti potensi ancaman biologis yang belum pernah ada sebelumnya.

Jejak Investasi dan Keterkaitan dengan Kremlin

Penyelidikan yang dilakukan oleh T-Invariant, sebuah media anti-perang independen yang didirikan oleh para ilmuwan Rusia, menemukan adanya keterkaitan finansial antara Neiry dengan Kremlin. Laporan tersebut mengungkapkan bahwa salah satu investor utama Neiry adalah National Technology Initiative (NTI).

NTI merupakan organisasi non-pemerintah yang didirikan melalui dekrit mantan Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev atas instruksi Presiden Rusia Vladimir Putin. Data menunjukkan bahwa kelompok tersebut telah mengucurkan investasi sekitar 360 juta rubel pada tahun 2021. Investasi tambahan lainnya juga dikaitkan dengan sumber-sumber yang didukung Kremlin, termasuk dari Interros milik taipan Rusia, Vladimir Potanin.

Respons Perusahaan dan Implikasi Strategis

Menanggapi laporan tersebut, pihak Neiry dengan tegas membantah adanya hubungan operasional dengan pemerintah Rusia. Namun, temuan ini memperkuat narasi tentang potensi teknologi dual-use yang dikembangkan dengan dukungan negara, yang dapat mengubah dinamika kekuatan global dan memicu perlombaan senjata di ranah bioteknologi.

Analisis mengenai pengembangan bio-drone ini didasarkan pada laporan media independen dan pernyataan resmi dari pakar pertahanan, serta klaim perusahaan yang dirilis pada Kamis, 05 Februari 2026.