Sejumlah sekutu utama Amerika Serikat, termasuk Kanada, Inggris, dan Korea Selatan, secara progresif membuka kembali jalur dagang dan diplomatik dengan Republik Rakyat China. Pergeseran kebijakan ini terjadi di tengah ketegangan berkelanjutan antara Washington dan Beijing, serta friksi antara Presiden AS Donald Trump dengan beberapa negara mitra tradisionalnya. Dinamika ini berpotensi merombak lanskap geopolitik global dan kohesi aliansi Barat.
Reorientasi Kebijakan Kanada
Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, mengumumkan langkah signifikan untuk memulihkan dan memperluas saluran perdagangan dengan China. Kebijakan ini mencakup pelonggaran pembatasan terhadap impor kendaraan listrik dari China, sebagai imbalan atas konsesi bagi ekspor produk pertanian Kanada. Langkah ini menandai perubahan substansial setelah bertahun-tahun hubungan yang tegang antara Ottawa dan Beijing.
Menanggapi hal tersebut, Presiden AS Donald Trump pada Sabtu, 24 Januari 2026, mengancam akan memberlakukan tarif sebesar 100 persen terhadap barang-barang Kanada jika negara itu “membuat kesepakatan” dengan China. Ancaman ini memperuncing retorika yang sebelumnya juga mencakup pernyataan Trump bahwa Kanada seharusnya menjadi negara bagian ke-51 Amerika Serikat.
Langkah Diplomatik Eropa dan Asia
Di Eropa, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer melakukan kunjungan kenegaraan ke Beijing pada pekan ini, menandai kunjungan pertama pemimpin Inggris dalam delapan tahun terakhir. London berupaya menstabilkan hubungan dagang dengan China setelah periode ketegangan yang dipicu oleh isu Hong Kong, kekhawatiran spionase, dan investasi China di infrastruktur kritis Inggris. Starmer menyatakan, “Suka atau tidak, China penting bagi Inggris,” menekankan bahwa sudah “terlalu lama” sejak kunjungan perdana menteri Inggris terakhir ke Beijing.
Kanselir Jerman yang baru, Friedrich Merz, juga dijadwalkan akan mengunjungi China pada Februari 2026. Sementara itu, Perdana Menteri Finlandia telah lebih dulu bertemu pejabat China di Beijing, menandatangani kerja sama di bidang konstruksi berkelanjutan, energi, dan pengendalian penyakit hewan. Pemerintah Finlandia juga secara diplomatis mendesak China untuk berkontribusi pada perdamaian di Ukraina, sekaligus menyoroti ketidakseimbangan dagang dan isu hak asasi manusia.
Di Asia, Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung menyerukan “pemulihan hubungan secara penuh” dengan China, menegaskan ketergantungan ekonomi Seoul pada Beijing. Pernyataan ini muncul meskipun Korea Selatan terus memperdalam kerja sama keamanan dengan Amerika Serikat dan Jepang.
Dampak Strategis dan Kekhawatiran Washington
Pergeseran kebijakan ini terjadi setelah serangkaian “bentrokan” antara Amerika Serikat dan sekutunya, termasuk perselisihan mengenai tarif perdagangan dan tuntutan Trump agar Greenland, wilayah otonom milik Denmark (sekutu NATO), berada di bawah kendali AS. Meskipun berisiko menyinggung Washington, negara-negara ini secara pragmatis menata ulang hubungan dengan China, yang selama ini dipandang sebagai pesaing ekonomi utama AS dan lawan strategis Barat.
Perdana Menteri Carney, dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, menegaskan pendekatan pragmatis: “Kami terlibat secara luas, strategis, dengan mata terbuka. Kami menghadapi dunia sebagaimana adanya, bukan menunggu dunia seperti yang kami harapkan.”
Para analis memperingatkan bahwa pergeseran ini dapat memecah belah blok Barat. Scott Kennedy, seorang pakar dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), menyatakan, “Akan mustahil bagi AS dan negara Barat untuk bersatu, jika perlu, mengisolasi China atau menetapkan syarat konektivitas dan kerja sama.”
Di Washington, sejumlah politisi dan analis menyuarakan kekhawatiran bahwa perubahan ini dapat menguntungkan Beijing dengan mengorbankan pengaruh Amerika Serikat. Senator AS Jeanne Shaheen mengkritik kebijakan yang ada, dengan mengatakan, “Alih-alih menciptakan front persatuan melawan China, kita justru mendorong sekutu terdekat kita ke pelukan mereka.”
Presiden Trump sendiri telah memperingatkan konsekuensi dari langkah-langkah sekutu tersebut. Menanggapi kunjungan Starmer ke Beijing, ia menyebutnya “sangat berbahaya bagi mereka.” Terkait Kanada, Trump menambahkan, “Bahkan lebih berbahaya bagi Kanada untuk berbisnis dengan China. Kanada tidak dalam kondisi baik. Mereka sangat terpuruk. Dan Anda tidak bisa melihat China sebagai jawabannya.”
Analisis mengenai dinamika diplomatik dan ekonomi ini didasarkan pada pernyataan resmi para pemimpin negara yang bersangkutan, laporan media internasional, serta pandangan dari lembaga think tank seperti CSIS yang dirilis hingga Jumat, 06 Februari 2026.