Internasional

Serangan AS-Israel dan Kematian Khamenei Picu Sumpah Perlawanan Hizbullah di Timur Tengah

Kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada Sabtu (28/2/2026) di tengah serangkaian serangan berkelanjutan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Republik Islam tersebut, telah memicu respons keras dari Hizbullah. Kelompok paramiliter Lebanon itu bersumpah untuk menghadapi agresi tersebut, menandai potensi eskalasi signifikan dalam dinamika keamanan regional.

Reaksi Hizbullah dan Mobilisasi Dukungan

Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, pada Senin (2/3/2026) menegaskan komitmen kelompoknya untuk “menjalankan tugas kami untuk menghadapi agresi.” Dalam pernyataannya, Qassem menekankan bahwa Hizbullah tidak akan meninggalkan “medan kehormatan dan perlawanan.” Pernyataan ini muncul setelah Hizbullah menggelar pertemuan dengan ribuan pendukung pada Minggu (1/3/2026) sore di pinggiran selatan Beirut, sebagai bentuk solidaritas kepada sekutunya, Iran.

Selain itu, Hizbullah juga menyerukan kepada masjid-masjid di wilayahnya untuk menyelenggarakan upacara berkabung dan pembacaan Al-Quran guna memperingati wafatnya Ayatollah Khamenei. Qassem secara eksplisit menyatakan bahwa pembunuhan Khamenei dan pejabat Iran lainnya merupakan “puncak kejahatan,” dan Hizbullah berjanji untuk “melanjutkan jihad dan perlawanannya, serta berdiri teguh dan tanpa ragu di samping Republik Islam untuk mengalahkan para agresor yang arogan dan tirani hingga kemenangan akhir dan lengkap tercapai.”

Dinamika Konflik dan Latar Belakang Serangan

Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai pada Sabtu (28/2/2026), bertepatan dengan wafatnya Ayatollah Ali Khamenei. Detail spesifik mengenai target dan skala serangan belum dirilis secara komprehensif oleh pihak-pihak yang terlibat. Peristiwa ini terjadi setelah periode ketegangan regional yang berkepanjangan, termasuk perang 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni lalu, di mana Hizbullah tidak melakukan intervensi atas nama Iran, menyusul kerugian signifikan yang dialami kelompok tersebut dalam konflik sebelumnya dengan Israel.

Posisi Lebanon dan Implikasi Regional

Pemerintah Lebanon berupaya menahan diri dari terseret ke dalam konflik yang lebih luas. Presiden Lebanon, Joseph Aoun, setelah pertemuan darurat Dewan Pertahanan Tinggi negara itu, menyatakan bahwa keputusan mengenai perang dan damai sepenuhnya berada di tangan negara Lebanon. Pernyataan ini diperkuat oleh Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, yang pada Sabtu menolak kemungkinan negaranya terseret ke dalam perang menyusul serangan AS-Israel terhadap Iran.

Namun, situasi di Lebanon tetap tegang. Kantor Berita Nasional Lebanon melaporkan adanya rudal Iran yang melintasi Lebanon selatan menuju Israel pada Minggu, dengan ledakan yang terdengar saat militer Israel berupaya mencegatnya. Kedutaan Besar AS di Beirut juga mengumumkan penutupan operasionalnya pada Senin tanpa memberikan alasan spesifik, mengindikasikan peningkatan kewaspadaan keamanan.

Analisis Strategis dan Potensi Eskalasi

Kematian Ayatollah Khamenei di tengah serangan militer eksternal berpotensi mengubah lanskap geopolitik Timur Tengah secara fundamental. Sumpah perlawanan Hizbullah, yang merupakan aktor non-negara dengan kapabilitas militer signifikan dan dukungan Iran, dapat memicu eskalasi konflik yang lebih luas, terutama jika serangan terhadap Iran terus berlanjut atau jika Hizbullah memutuskan untuk mengambil tindakan balasan langsung terhadap kepentingan AS atau Israel di kawasan.

Posisi Lebanon sebagai negara yang berbatasan langsung dengan Israel dan menjadi basis operasional Hizbullah menempatkannya dalam dilema strategis. Upaya pemerintah Lebanon untuk menjaga netralitas akan sangat menantang di tengah tekanan internal dan eksternal yang meningkat. Respons dari negara-negara regional dan kekuatan global lainnya akan krusial dalam menentukan arah konflik ini.

Analisis mengenai pergerakan militer dan pernyataan politik ini didasarkan pada laporan media internasional, pernyataan resmi dari pemimpin Hizbullah Naim Qassem, serta keterangan dari Kantor Berita Nasional Lebanon dan pejabat pemerintah Lebanon yang dirilis pada periode 28 Februari hingga 2 Maret 2026.