Gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada Senin, 2 Maret 2026, akibat serangan udara yang diklaim oleh Amerika Serikat dan Israel, telah memicu gelombang ketidakpastian geopolitik di seluruh Timur Tengah. Insiden ini secara signifikan melumpuhkan struktur komando dan kendali “Poros Perlawanan” Iran, sebuah jaringan milisi proksi yang vital bagi strategi pertahanan Teheran, di tengah eskalasi konflik regional.
Dampak Strategis pada Poros Perlawanan
“Poros Perlawanan,” yang terdiri dari Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan berbagai milisi di Irak, telah lama berfungsi sebagai garis depan strategis Iran. Namun, gugurnya Khamenei dan terganggunya jalur logistik vital telah mengubah aliansi ini dari kekuatan terpadu menjadi serangkaian entitas terisolasi yang kini berfokus pada kelangsungan hidup masing-masing. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara paradoks menyatakan bahwa Teheran tidak bergantung pada proksinya untuk pertahanan, menegaskan, “Kami dapat mempertahankan diri kami sendiri. Kami tidak ingin ada pihak mana pun yang membantu kami dalam mempertahankan diri.” Pernyataan ini kontras dengan realitas di lapangan, di mana kelompok proksi menghadapi tekanan eksistensial.
Hizbullah: Pergeseran Prioritas di Lebanon
Di Lebanon, Hizbullah melancarkan serangan roket ke Israel utara pada Senin, secara eksplisit mengaitkan aksi tersebut dengan kematian Khamenei. Militer Israel merespons dengan serangan udara intensif di pinggiran selatan Beirut dan Lembah Bekaa. Analis keamanan Ali Rizk dari Beirut menginterpretasikan langkah Hizbullah sebagai respons terhadap ancaman eksistensial, menyatakan, “Hizbullah percaya bahwa mereka akan menjadi target berikutnya dalam daftar.” Meskipun masih memiliki kapabilitas persenjataan yang signifikan, kelompok ini menghadapi kerugian besar dan ancaman penargetan pemimpin mereka. Selain itu, runtuhnya rezim Bashar al-Assad di Suriah pada akhir 2024 telah memutus “jembatan darat” logistik krusial, membuat Hizbullah rentan tanpa dukungan langsung Teheran.
Houthi: Dilema Solidaritas dan Ancaman Domestik di Yaman
Di Yaman, kelompok Houthi juga menghadapi tekanan. Pemimpin mereka, Abdel-Malik al-Houthi, menyatakan kesiapan pasukannya namun menekankan bahwa respons Iran akan menjadi penentu. Analis menilai pernyataan ini sebagai upaya untuk menghindari keterlibatan langsung dalam konflik regional yang lebih luas. Houthi saat ini menghadapi ancaman serius dari pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, dengan Menteri Pertahanan Taher al-Aqili mengisyaratkan serangan darat untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi, termasuk ibu kota Sanaa. Dewan Pimpinan Politik Houthi memperingatkan risiko eskalasi jika mereka memperluas target, mengindikasikan prioritas pada pertahanan domestik.
Milisi Irak: Ancaman Pembubaran dan Ketidakpastian
Situasi di Irak lebih genting. Milisi pro-Iran menghadapi kebuntuan langsung dengan Amerika Serikat. Ketegangan meningkat sejak akhir 2024, ketika penasihat Perdana Menteri Irak, Ibrahim Al-Sumaidaie, mengungkapkan ancaman Washington untuk membubarkan kelompok-kelompok tersebut secara paksa. Pengunduran diri Al-Sumaidaie di bawah tekanan milisi menggarisbawahi kerentanan pemerintah Irak. Tanpa koordinasi dari komandan Garda Revolusi Iran (IRGC), terdapat kekhawatiran bahwa milisi yang terisolasi dapat melancarkan serangan individual terhadap pangkalan AS, berpotensi menyeret Baghdad ke dalam konflik yang ingin dihindarinya.
Keruntuhan Struktur Komando dan Kendali
Kematian Ayatollah Khamenei secara fundamental meruntuhkan struktur komando dan kendali “Poros Perlawanan.” Jaringan proksi yang sebelumnya terikat oleh otoritas ideologis Khamenei, koordinasi logistik Garda Revolusi Iran (IRGC), dan jalur geografis via Suriah, kini terfragmentasi. Analis Dareini menyoroti bahwa “kerusakan paling penting bagi kepentingan keamanan Iran adalah terputusnya hubungan darat,” serta terputusnya ikatan spiritual antar kelompok. Timur Tengah kini memasuki periode ketidakpastian strategis, di mana “Poros Perlawanan” berfungsi sebagai entitas yang terpisah, masing-masing menyusun strategi kelangsungan hidupnya sendiri tanpa arahan terpusat dari Teheran.
Analisis mengenai dinamika Poros Perlawanan ini didasarkan pada laporan media internasional seperti Al Jazeera, pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Iran, serta evaluasi dari analis keamanan regional yang dirilis pada awal Maret 2026.