Internasional

Singapura: Koroner Negara Kecam Keras Kelalaian Fatal Ahli Bedah Urologi dalam Operasi Ginjal Lansia

SINGAPURA – Seorang ahli bedah urologi terkemuka di Singapura, Fong Yan Kit, kini menghadapi kecaman tajam dari Koroner Negara Bagian, Adam Nakhoda, terkait insiden malapraktik yang mengakibatkan kematian seorang pasien lansia berusia 63 tahun pada tahun 2022. Insiden ini menyoroti standar profesional dan integritas dalam praktik medis, memicu perdebatan mengenai akuntabilitas dan transparansi di sektor kesehatan.

Kronologi Insiden Fatal

Berdasarkan dokumen pengadilan yang dirilis pada Jumat, 7 Februari 2026, Fong Yan Kit secara fatal memutus arteri mesenterika superior dan trunkus seliaka, dua pembuluh darah vital yang menyuplai darah ke lambung dan usus. Kesalahan identifikasi ini terjadi saat Fong melakukan prosedur bedah ginjal pada pasien, di mana ia keliru mengira pembuluh-pembuluh tersebut sebagai vena ginjal. Pasien, yang menderita tumor ginjal berukuran 7,5 cm, meninggal dunia akibat komplikasi fatal dari pemotongan pembuluh darah utama tersebut.

Pembelaan Dokter dan Bantahan Ahli

Dalam persidangan, Fong Yan Kit mengajukan pembelaan dengan berargumen bahwa letak arteri pada tubuh pasien tidak lazim atau mengalami anomali. Ia mengeklaim bahwa tumor ginjal kemungkinan besar telah menyebabkan pergeseran posisi anatomi pembuluh darah. Fong juga menyatakan bahwa pendarahan hebat sering terjadi dalam prosedur urologi, dan ia hanya melakukan praktik standar untuk menghentikan pendarahan dengan memotong pembuluh darah di sekitarnya yang ia yakini sebagai arteri ginjal.

Namun, dalih tersebut dipatahkan oleh Profesor Christopher Cheng, konsultan urologi senior dari Rumah Sakit Umum Singapura (SGH). Profesor Cheng menegaskan bahwa variasi anatomi, meskipun mungkin terjadi, seharusnya sudah teridentifikasi dengan jelas melalui pemindaian CT (computed tomography) pra-operasi. Lebih lanjut, bukti rekaman video menunjukkan bahwa arteri yang dipotong Fong secara anatomi jauh lebih besar dan berbeda secara visual dari arteri ginjal yang sebenarnya. Rekaman tersebut juga memperlihatkan Fong sempat berhenti selama 13 menit setelah pemotongan yang salah, bahkan setelah melihat arteri ginjal kiri yang asli, namun tidak segera mengakui kesalahannya atau mencari pendapat kedua dari ahli bedah vaskular.

Sorotan Koroner Negara terhadap Integritas Profesional

Koroner Adam Nakhoda mengecam keras sikap Fong yang dinilai tidak transparan dan kurangnya akuntabilitas. Ia menyoroti fakta bahwa Fong tidak mencantumkan insiden pemotongan arteri vital tersebut dalam laporan medis pertamanya. Laporan medis dari Rumah Sakit Raffles juga disorot karena dianggap “mengelak” dari kenyataan bahwa pembuluh darah utama pasien terputus akibat kelalaian identifikasi. Nakhoda menekankan bahwa pengabaian petunjuk yang jelas dan kegagalan untuk memperbaiki situasi selagi kesempatan masih ada adalah tindakan yang tidak dapat dibayangkan bagi seorang profesional medis.

“Setiap ahli bedah yang cukup kompeten pasti menyadari bahwa terlalu banyak pembuluh darah besar yang tidak berhubungan langsung dengan ginjal telah diikat dan dipotong,” tegas Adam Nakhoda, menggarisbawahi standar kompetensi yang diharapkan.

Koroner menyimpulkan bahwa jika kesalahan diakui lebih awal dan bantuan ahli bedah vaskular segera dipanggil, nyawa pasien diyakini masih bisa diselamatkan, menyoroti dampak krusial dari keputusan dan integritas seorang ahli bedah.

Analisis mengenai insiden malapraktik ini didasarkan pada dokumen pengadilan, kesaksian ahli, dan pernyataan resmi Koroner Negara Bagian Singapura yang dirilis pada 7 Februari 2026.