Internasional

Singapura Tinjau Strategi Demografi: Akuisisi Warga Baru untuk Perkuat Ketahanan Nasional di Tengah Anjloknya Kelahiran

Singapura menghadapi ancaman demografi yang mendalam seiring dengan anjloknya angka kelahiran ke rekor terendah. Pada tahun 2025, angka kesuburan total (Total Fertility Rate/TFR) penduduk residen tercatat hanya 0,87, menandai penurunan signifikan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah negara kota tersebut.

Wakil Perdana Menteri Singapura, Gan Kim Yong, dalam debat anggaran Kantor Perdana Menteri pada Kamis, 26 Februari 2026, memperingatkan bahwa tanpa intervensi kebijakan yang substansial, populasi warga negara Singapura berisiko mulai menyusut pada awal dekade 2040-an. Situasi ini diperparah oleh laju penuaan penduduk yang semakin cepat, menimbulkan implikasi luas bagi struktur masyarakat dan stabilitas ekonomi.

Ancaman Demografi dan Proyeksi Penyusutan Populasi

Penurunan TFR menjadi 0,87 berarti rata-rata setiap perempuan melahirkan kurang dari satu anak sepanjang usia reproduktifnya. Gan Kim Yong mengilustrasikan dampak jangka panjangnya: untuk setiap 100 penduduk saat ini, hanya akan ada 44 anak dan 19 cucu di masa depan. Tren ini, menurutnya, akan menjadi “hampir mustahil untuk dibalik” seiring waktu karena berkurangnya jumlah perempuan usia produktif.

Proyeksi pemerintah menunjukkan bahwa jika TFR tetap pada level ini, penyusutan populasi warga negara Singapura akan dimulai pada awal 2040-an. Angka kelahiran residen pada 2025, berdasarkan data sementara, hanya mencapai sekitar 27.500 bayi, merupakan yang terendah dalam sejarah pencatatan Singapura. Angka ini turun sekitar 11 persen dibandingkan 30.808 kelahiran residen pada 2024, dan jauh di bawah TFR 1,24 yang tercatat satu dekade sebelumnya pada 2015.

Strategi Imigrasi dan Tantangan Integrasi

Untuk mengatasi defisit demografi, pemerintah Singapura menekankan perlunya arus imigrasi yang “dikelola dengan hati-hati”. Dalam lima tahun ke depan, pemerintah menargetkan untuk menerima antara 25.000 hingga 30.000 warga negara baru per tahun, bergantung pada tren demografi. Sebagai perbandingan, pada 2025, sekitar 25.000 orang memperoleh kewarganegaraan Singapura, sedikit di atas rata-rata 21.300 per tahun pada periode 2020–2024.

Selain itu, jumlah penduduk tetap (permanent residents/PR) baru juga diperkirakan meningkat menjadi sekitar 40.000 per tahun dalam lima tahun mendatang, dari sekitar 35.000 pada 2025. Gan menegaskan bahwa pemerintah akan mempertahankan inti warga negara yang stabil dan tetap selektif dalam memilih imigran baru. Laju imigrasi juga akan disesuaikan agar pembangunan infrastruktur publik, seperti perumahan dan transportasi, dapat mengimbangi pertumbuhan penduduk.

Mengenai target populasi 6,9 juta yang diungkap dalam White Paper Kependudukan 2013, Gan kembali menegaskan bahwa angka tersebut bukan sasaran mutlak melainkan parameter perencanaan. Per Juni 2025, populasi Singapura tercatat 6,11 juta jiwa, dan Gan menyatakan bahwa dibutuhkan waktu “cukup lama” untuk mencapai 6,9 juta jika tren saat ini berlanjut. Pemerintah akan meninjau situasi ini kembali pada 2030, sembari mempertahankan keseimbangan etnis yang luas dalam populasi warga negara.

Pemerintah juga mengakui adanya kekhawatiran publik terkait imigrasi, terutama mengenai peluang kerja dan perubahan karakter masyarakat. Gan menyatakan keseriusan pemerintah dalam menanggapi kecemasan ini dan berjanji untuk meningkatkan upaya integrasi antara imigran baru dan warga Singapura.

Dampak Ekonomi dan Keamanan Nasional

Gan Kim Yong menggarisbawahi bahwa “angka kelahiran yang rendah dan populasi yang menua akan secara mendalam membentuk kembali bangsa kita, masyarakat kita, dan ekonomi kita pada tahun-tahun mendatang.” Meskipun ada tambahan imigrasi, pertumbuhan populasi warga negara hanya 0,7 persen pada 2025, sebuah laju yang terus melambat dalam satu dekade terakhir.

Fenomena penuaan penduduk juga semakin cepat; pada 2025, satu dari lima warga negara berusia 65 tahun ke atas, meningkat dari satu dari delapan pada 2015. Dampak luas dari tren ini mencakup melemahnya jaringan dukungan keluarga, perlambatan pertumbuhan ekonomi, dan tantangan serius terhadap kemampuan negara untuk memenuhi kebutuhan keamanan nasional dan pertahanan.

“Pada tingkat makro, ekonomi yang menyusut berarti berkurangnya vitalitas di kota dan ekonomi kita. Pertumbuhan ekonomi kita dan, sejalan dengan itu, pertumbuhan pendapatan kita akan melambat,” ujar Gan. “Dengan semakin sedikit warga negara, akan menjadi semakin sulit untuk memenuhi kebutuhan keamanan nasional dan pertahanan kita. Ini memunculkan pertanyaan yang lebih dalam tentang seperti apa Singapura dalam 50 atau 100 tahun mendatang—apakah kita akan tetap dinamis, layak huni, dan relevan? Apakah kita akan tetap ada?”

Analisis mengenai dinamika demografi ini didasarkan pada pernyataan resmi Wakil Perdana Menteri Gan Kim Yong dalam debat anggaran Kantor Perdana Menteri pada 26 Februari 2026, serta data statistik populasi yang dirilis oleh pemerintah Singapura.