Internasional

Somaliland: Tawarkan Akses Mineral dan Pangkalan Militer kepada AS dan Israel di Kawasan Strategis Tanduk Afrika

Hargeisa, Somaliland – Somaliland, sebuah entitas yang memproklamasikan kemerdekaannya, menyatakan kesediaan untuk memberikan akses eksklusif terhadap sumber daya mineral dan potensi penempatan pangkalan militer kepada Amerika Serikat. Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Kepresidenan Somaliland, Khadar Hussein Abdi, pada Minggu (22/2/2026), yang juga mengindikasikan keterbukaan serupa terhadap Israel.

Langkah diplomatik ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Laut Merah dan Teluk Aden, area maritim krusial yang sering menjadi sasaran serangan kelompok Houthi dari Yaman. Posisi geografis Somaliland yang strategis di seberang Teluk Aden menjadikannya titik fokus dalam dinamika keamanan regional.

Penawaran Strategis Somaliland

Menteri Khadar Hussein Abdi menegaskan komitmen Somaliland untuk menjalin kemitraan strategis. “Kami bersedia memberikan akses eksklusif ke mineral kami kepada AS. Selain itu, kami terbuka untuk menawarkan pangkalan militer kepada mereka,” ujar Abdi, seraya menambahkan keyakinan akan tercapainya kesepakatan dengan Washington.

Dalam beberapa pekan terakhir, Presiden Somaliland, Abdirahman Mohamed Abdullahi, juga telah memberikan sinyal serupa kepada Israel, bahkan tidak menutup kemungkinan bagi Tel Aviv untuk membangun kehadiran militer di wilayah tersebut. Pejabat Somaliland mengklaim bahwa tanah mereka kaya akan litium, koltan, dan sumber daya berharga lainnya, meskipun studi independen yang komprehensif masih terbatas.

Respon Internasional dan Dinamika Regional

Penawaran ini tidak terlepas dari pengakuan Israel atas kemerdekaan Somaliland pada Desember tahun lalu. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, saat itu menandatangani deklarasi bersama yang menetapkan hubungan diplomatik penuh, menggambarkan langkah tersebut dalam semangat Kesepakatan Abraham yang dimediasi AS.

Namun, langkah Israel ini memicu kecaman keras dari Somalia. Presiden Somalia, Hassan Sheikh Mohamud, mengecamnya sebagai pelanggaran terbesar terhadap kedaulatan teritorial Somalia dan ancaman serius terhadap stabilitas kawasan. Uni Afrika dan sebagian besar negara-negara Arab secara konsisten memberikan dukungan kepada Somalia dan mengutuk tindakan Israel tersebut.

Amerika Serikat, meskipun membela hak Israel untuk mengakui Somaliland, belum mengindikasikan akan mengikuti langkah tersebut. Di sisi lain, Khadar Hussein Abdi secara khusus menyerukan kepada Turki, negara yang juga keberatan dengan pengakuan Israel, untuk berdialog langsung dengan Hargeisa. “Para pejabat Turki harus berbicara dengan kami, bukan dengan Mogadishu, karena Somalia tidak memiliki negara yang berfungsi,” kata Abdi, menyoroti fragmentasi faksi-faksi di ibu kota Somalia.

Implikasi Geopolitik

Tawaran Somaliland kepada kekuatan global seperti AS dan Israel berpotensi mengubah arsitektur keamanan di Tanduk Afrika. Penempatan pangkalan militer di wilayah tersebut dapat memperkuat kemampuan deterrence terhadap ancaman maritim di Laut Merah dan Teluk Aden, sekaligus memberikan akses strategis ke sumber daya mineral yang vital bagi industri teknologi global.

Namun, langkah ini juga memperdalam ketegangan dengan Somalia dan dapat memicu polarisasi lebih lanjut di kawasan yang sudah rentan. Dinamika ini menyoroti kompleksitas kedaulatan, kepentingan ekonomi, dan strategi pertahanan di salah satu koridor pelayaran paling penting di dunia.

Analisis mengenai pergerakan diplomatik ini didasarkan pada pernyataan resmi Kementerian Kepresidenan Somaliland dan laporan media internasional yang dirilis pada Minggu, 22 Februari 2026, serta pernyataan dari Kantor Perdana Menteri Israel dan Presiden Somalia.