Berakhirnya masa berlaku perjanjian kontrol senjata nuklir New START antara Amerika Serikat dan Rusia pada Kamis (5/2/2026) menandai fase baru ketidakpastian keamanan global. Kegagalan kedua kekuatan nuklir terbesar dunia tersebut untuk mencapai kesepakatan perpanjangan memicu kekhawatiran akan dimulainya kembali perlombaan senjata tanpa batas, di tengah penolakan tegas China untuk terlibat dalam negosiasi trilateral yang diusulkan Washington.
Kegagalan Ekstensi dan Vakum Regulasi Strategis
Perjanjian New START resmi berakhir setelah administrasi Presiden AS Donald Trump tidak menindaklanjuti proposal Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memperpanjang pembatasan hulu ledak selama satu tahun. Dengan berakhirnya traktat ini, instrumen hukum internasional terakhir yang membatasi jumlah arsenal nuklir strategis yang dikerahkan oleh Washington dan Moskwa kini telah hilang.
Kekosongan regulasi ini juga mengakhiri mekanisme inspeksi langsung ke lokasi arsenal nuklir yang sebelumnya telah ditangguhkan sejak pandemi Covid-19. Tanpa adanya transparansi timbal balik, risiko salah kalkulasi strategis antarnegara pemilik senjata nuklir diprediksi akan meningkat secara signifikan.
Doktrin Pertahanan dan Penolakan Beijing
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menegaskan bahwa Beijing tidak akan berpartisipasi dalam negosiasi pelucutan senjata nuklir pada tahap ini. China berargumen bahwa skala kekuatan nuklirnya tidak sebanding dengan Amerika Serikat dan Rusia, yang secara kolektif menguasai lebih dari 80 persen hulu ledak nuklir dunia.
“China selalu berpendapat bahwa kemajuan pengendalian senjata dan pelucutan senjata harus mematuhi prinsip-prinsip menjaga stabilitas strategis global,” ujar Lin Jian dalam konferensi pers resmi.
Beijing menekankan bahwa setiap upaya pengendalian senjata harus mempertimbangkan perbedaan kapabilitas yang mencolok. Meskipun Washington mendesak inklusi China dalam perjanjian baru, Beijing tetap pada posisi bahwa tanggung jawab utama pelucutan senjata berada di tangan negara dengan arsenal terbesar.
Analisis Perbandingan Kekuatan Nuklir
Meskipun China dilaporkan melakukan modernisasi arsenal secara cepat, data menunjukkan adanya disparitas signifikan dibandingkan dengan batasan yang sebelumnya ditetapkan dalam kerangka New START.
| Parameter Kapabilitas | Batas New START (AS/Rusia) | Estimasi Kekuatan China |
|---|---|---|
| Hulu Ledak Strategis | 1.550 | Dalam Ekspansi Cepat |
| Peluncur Nuklir Strategis | 800 | ~550 Unit |
| Mekanisme Inspeksi | Wajib (Sebelum Penangguhan) | Tidak Tersedia |
Para analis pertahanan memperingatkan bahwa tanpa adanya batasan formal, China mungkin akan mempercepat pengembangan arsenalnya untuk mencapai paritas strategis, sementara AS dan Rusia berpotensi meningkatkan jumlah hulu ledak aktif mereka melampaui batas 1.550 yang sebelumnya disepakati pada tahun 2010.
Analisis mengenai dinamika kontrol senjata nuklir dan pergeseran kekuatan global ini didasarkan pada pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri China serta laporan pemantauan arsenal nuklir internasional yang dirilis pada Februari 2026.