Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan mulai mengintegrasikan kedekatannya dengan kelompok lobi pro-Israel di Amerika Serikat sebagai instrumen tekanan diplomatik terhadap Arab Saudi. Langkah strategis ini menandai eskalasi baru dalam persaingan pengaruh antara dua kekuatan utama Teluk di koridor kekuasaan Washington pasca-Kesepakatan Abraham (Abraham Accords).
Instrumentalisasi Isu Antisemitisme dalam Diplomasi
Berdasarkan laporan yang dihimpun dari pejabat aktif dan mantan pejabat Amerika Serikat, Abu Dhabi telah melakukan pendekatan intensif kepada Komite Yahudi Amerika (AJC). UEA mendesak organisasi berpengaruh tersebut untuk mengeluarkan pernyataan resmi terkait dugaan peningkatan sentimen antisemitisme di Arab Saudi. Upaya ini dinilai sebagai langkah taktis mengingat sensitivitas isu tersebut dalam politik domestik dan luar negeri Amerika Serikat.
Pemanfaatan narasi ini bertujuan untuk merusak reputasi Riyadh di mata pembuat kebijakan di Washington. “Perseteruan ini telah mengambil dimensi keagamaan,” ungkap seorang sumber diplomatik yang memantau dinamika tersebut. Namun, klaim ini dibantah keras oleh kalangan akademisi Saudi yang menyebutnya sebagai bentuk manipulasi berbahaya untuk mendapatkan keuntungan politik jangka pendek.
Respons Strategis dan Kontra-Narasi Riyadh
Menyadari risiko diplomatik yang signifikan, Menteri Pertahanan Arab Saudi, Pangeran Khalid bin Salman, segera melakukan langkah mitigasi atau damage control. Riyadh meluncurkan operasi diplomasi paralel dengan mengadakan pertemuan langsung bersama simpul-simpul kekuasaan pro-Israel di Washington guna menetralisir narasi negatif yang berkembang.
- Pertemuan strategis dengan delegasi American Jewish Committee (AJC).
- Dialog dengan Anti-Defamation League (ADL) untuk menjelaskan reformasi sosial di Kerajaan.
- Penguatan narasi moderasi beragama sesuai dengan kerangka Visi 2030.
Dinamika Persaingan Regional di Yaman dan Sudan
Ketegangan antara Abu Dhabi dan Riyadh tidak terbatas pada lobi di Washington, melainkan berakar pada perbedaan visi strategis di beberapa teater konflik regional yang telah memuncak sejak akhir tahun lalu. Perbedaan kepentingan ini mencakup kontrol jalur logistik dan dukungan terhadap faksi yang berseberangan.
| Wilayah Konflik | Fokus Arab Saudi | Fokus Uni Emirat Arab |
| Yaman | Stabilitas pemerintahan pusat dan perbatasan | Penguasaan pelabuhan strategis di Selatan |
| Sudan | Mediasi diplomatik dan stabilitas kawasan | Dukungan logistik pada faksi militer tertentu |
Analisis mengenai pergeseran taktik diplomasi dan persaingan pengaruh di kawasan Teluk ini didasarkan pada laporan Middle East Eye serta pernyataan resmi dari perwakilan pemerintah terkait yang dirilis hingga pertengahan Februari 2026.