Di tengah dominasi smartphone dan layanan streaming musik yang kian masif, sebuah fenomena menarik muncul dari kalangan Generasi Z. Perangkat pemutar musik lawas Apple, iPod, yang produksinya telah dihentikan sejak 2022, kini justru mengalami kebangkitan popularitas. Tren ini mengindikasikan pergeseran perilaku konsumen muda yang mencari pengalaman digital yang lebih terfokus dan bebas gangguan.
Fenomena Kebangkitan iPod di Era Digital
Laporan terbaru dari Axios menyoroti peningkatan signifikan dalam pencarian terkait kata kunci “Original iPod” dan “iPod Nano” di Google sepanjang tahun 2025. Meskipun data spesifik perbandingan tahunan tidak disebutkan, tren serupa juga tercatat di platform marketplace eBay. Pada periode Januari hingga Oktober 2025, pencarian untuk iPod Classic dan iPod Nano masing-masing melonjak 25 persen dan 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Data ini diperkuat oleh survei yang dilakukan pengamat musik Emily White pada Desember 2025, yang menemukan bahwa 32 persen Gen Z kini gemar mendengarkan musik melalui pemutar musik lawas, termasuk MP3 player. Fenomena ini menantang narasi bahwa perangkat multifungsi selalu menjadi pilihan utama.
Mengapa Gen Z Beralih ke Kesederhanaan?
Profesor Cal Newport dari Universitas Georgetown AS menawarkan perspektif bahwa Gen Z beralih ke pemutar musik lawas karena perangkat tersebut menawarkan kesederhanaan. Berbeda dengan smartphone yang sarat notifikasi, konektivitas internet, dan media sosial, iPod hanya memiliki satu fungsi utama: memutar musik. Distraksi yang minim ini dianggap krusial untuk pengalaman mendengarkan yang lebih mendalam dan bebas interupsi.
Sebagian besar responden survei Emily White juga mengamini pandangan ini, menyebut penggunaan perangkat lawas sebagai bentuk “detoks digital“. Ini adalah upaya sadar untuk melepaskan diri dari hiruk pikuk dunia maya yang kerap mengganggu konsentrasi. Selain itu, pilihan musik di iPod sepenuhnya dikurasi oleh pengguna, tidak didikte oleh algoritma platform streaming seperti Spotify atau YouTube Music yang cenderung memutar lagu secara acak berdasarkan riwayat pencarian.
Fenomena ini juga selaras dengan tren “friction-maxxing”, sebuah pilihan sadar untuk menggunakan teknologi yang lebih sederhana dan kurang praktis. Tujuannya adalah mengurangi ketergantungan pada perangkat serba instan yang seringkali justru memecah fokus.
Dinamika Pasar Musik Digital: Streaming Tetap Dominan?
Meskipun ada kebangkitan pemutar musik lawas, layanan streaming musik seperti Apple Music dan Spotify tetap mendominasi industri. Menurut laporan Mordor Intelligence, pasar streaming musik global diproyeksikan tumbuh dari 23,18 miliar dollar AS pada 2025 menjadi 25,12 miliar dollar AS pada 2026, dan diperkirakan mencapai 37,58 miliar dollar AS pada 2031.
Sebagaimana dirangkum KompasTekno dari DigitalTrends pada Selasa (24/2/2026), pertumbuhan pasar streaming yang berkelanjutan ini menunjukkan bahwa preferensi Gen Z terhadap iPod adalah sebuah ceruk pasar yang spesifik. Ini bukan berarti penolakan total terhadap streaming, melainkan sebuah pilihan sadar untuk momen-momen tertentu yang membutuhkan fokus dan pengalaman audio yang lebih personal. Kedua tren ini, baik dominasi streaming maupun kebangkitan perangkat lawas, dapat beriringan, mencerminkan keragaman kebutuhan dan preferensi konsumen di era digital.