Dalam persidangan tingkat pertama di Los Angeles pada 18 Februari 2026, sebuah fakta mengejutkan terungkap: CEO Meta, Mark Zuckerberg, pernah mengirimkan e-mail kepada CEO Apple, Tim Cook, pada tahun 2018. Komunikasi privat ini membahas isu krusial mengenai kesejahteraan remaja dan anak-anak di platform digital, sebuah pengakuan yang kontras dengan sejarah panjang rivalitas publik antara kedua pemimpin teknologi tersebut.
Terungkap di Persidangan: E-mail Rahasia Zuckerberg
Kesaksian Zuckerberg dalam gugatan terkait keamanan media sosial bagi anak-anak dan remaja mengungkap adanya pertukaran e-mail dengan Tim Cook. Menurut Paul Schmidt, kuasa hukum Zuckerberg, e-mail tersebut menunjukkan inisiatif kliennya dalam memperhatikan keselamatan pengguna muda Instagram, bahkan dengan menghubungi perusahaan pesaing yang sering dikritiknya. Zuckerberg menyatakan, “Saya melihat ada peluang bagi perusahaan kami dan Apple untuk melakukan sesuatu bersama, dan saya ingin membicarakannya dengan Tim.”
E-mail ini menjadi bukti bahwa Zuckerberg peduli pada kesejahteraan remaja dan anak-anak yang menggunakan layanan Meta. Dalam persidangan, ia juga menanggapi laporan riset dari University of Chicago yang melibatkan 18 pakar, yang menyatakan bahwa filter kecantikan di platform media sosial, termasuk Instagram, berpotensi membahayakan remaja perempuan. Zuckerberg mengakui telah mendiskusikan masukan tersebut dengan timnya, namun keputusan akhir mempertimbangkan kebebasan berekspresi.
Verifikasi Usia dan Tanggung Jawab Platform
Isu lain yang disorot adalah keberadaan pengguna di bawah umur di platform Meta. Meskipun Instagram mensyaratkan usia minimal 13 tahun, dokumen persidangan menunjukkan bahwa sekitar 4 juta anak di bawah 13 tahun menggunakan platform tersebut di AS. Zuckerberg menegaskan bahwa perusahaannya menghapus semua akun di bawah umur yang berhasil diidentifikasi dan telah mencantumkan ketentuan usia saat pendaftaran, yang baru diwajibkan pada akhir 2019.
Zuckerberg juga berpendapat bahwa verifikasi usia seharusnya lebih tepat dilakukan oleh perusahaan pengelola sistem operasi dan toko aplikasi, seperti Apple dan Google, yang memiliki kontrol lebih besar atas akses perangkat.
Dinamika Hubungan Apple dan Meta: Sejarah Rivalitas
Hubungan antara Mark Zuckerberg dan Tim Cook, serta antara Meta dan Apple, telah lama diwarnai oleh kritik dan sindiran publik. Pada tahun 2014, setelah skandal peretasan iCloud, Cook menyindir model bisnis perusahaan seperti Facebook yang memperlakukan pengguna sebagai ‘produk’ untuk iklan. “Saat sebuah layanan online bisa dipakai dengan gratis, Anda bukanlah penggunanya, melainkan produk di sana,” tulis Cook.
Zuckerberg membalas kritik tersebut, menyatakan frustrasinya terhadap anggapan bahwa model bisnis iklan tidak sejalan dengan kepentingan konsumen. “Apakah Anda pikir dengan membayar Apple, maka mereka akan sejalan dengan Anda? Kalau memang begitu, maka Apple akan memasarkan produk dengan harga lebih murah!” seru Zuckerberg.
Rivalitas ini berlanjut pada tahun 2022 ketika Cook mengkritik proyek Metaverse Meta, mempertanyakan pemahaman publik dan perlunya hidup di dunia virtual. Zuckerberg menanggapi dengan sindiran bahwa ekosistem Apple yang tertutup tidak cocok dengan visi Metaverse yang lebih terbuka.
Terbaru, pada tahun 2025, Zuckerberg menyebut Apple minim inovasi. “Seolah-olah, Steve Jobs menciptakan iPhone, dan sekarang mereka hanya berdiam diri saja setelah 20 tahun,” ujarnya dalam sebuah podcast, mengindikasikan stagnasi inovasi di raksasa Cupertino tersebut.
Implikasi Kebijakan dan Kolaborasi Industri
Terungkapnya e-mail Zuckerberg kepada Cook pada tahun 2018 menunjukkan adanya lapisan kompleks dalam hubungan kedua raksasa teknologi ini. Di balik persaingan sengit dan kritik terbuka, terdapat upaya dialog tertutup mengenai isu-isu krusial yang berdampak pada jutaan pengguna, terutama anak-anak dan remaja.
Meskipun kedua perusahaan memiliki filosofi bisnis yang berbeda—model berbasis iklan Meta versus model berbasis perangkat keras dan layanan Apple—kebutuhan untuk mengatasi tantangan sosial seperti keamanan pengguna muda mungkin mendorong mereka untuk mencari titik temu. Ini bisa menjadi preseden bagi kolaborasi industri yang lebih luas dalam menghadapi regulasi digital yang semakin ketat dan tuntutan etika dari masyarakat.