Microsoft Gaming mengumumkan perubahan kepemimpinan signifikan dengan pensiunnya Phil Spencer, CEO Xbox yang telah berkarier selama 38 tahun di perusahaan tersebut. Posisi strategis ini kini diemban oleh Asha Sharma, seorang eksekutif dengan latar belakang kuat di bidang kecerdasan buatan (AI), menandai potensi pergeseran fokus dan strategi di salah satu divisi gaming terbesar di dunia.
Transisi Kepemimpinan di Microsoft Gaming
Phil Spencer, sosok yang dikenal luas sebagai wajah Xbox selama 12 tahun terakhir, secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari Microsoft. Melalui unggahan di LinkedIn pribadinya, Spencer menyatakan, “Setelah 38 tahun di Microsoft, momen itu akhirnya tiba bagi saya. Saya memutuskan untuk pensiun dan memulai babak baru dalam hidup.” Spencer memimpin divisi Xbox sejak 2014, mengawasi akuisisi besar seperti Activision Blizzard dan transformasi ekosistem Xbox menjadi layanan yang lebih luas.
CEO Microsoft, Satya Nadella, dalam memo internal kepada karyawan, mengonfirmasi bahwa keputusan pensiun Spencer telah direncanakan sejak tahun lalu. Nadella memuji kontribusi Spencer dalam mentransformasi bisnis gaming Microsoft, meskipun divisi tersebut menghadapi tantangan pendapatan.
Asha Sharma: Visi Baru dengan Fokus AI
Pengganti Spencer adalah Asha Sharma, yang bergabung dengan Microsoft pada tahun 2024 dari Instacart. Sharma akan menjabat sebagai CEO Gaming dan melapor langsung kepada Nadella. Sebelumnya, Sharma menjabat sebagai President of Product di bisnis Core AI Microsoft, di mana ia terlibat dalam pengembangan produk AI seperti Foundry, yang mengintegrasikan model AI ke aplikasi pihak ketiga.
Dalam pesan pertamanya kepada karyawan gaming Microsoft, Sharma menegaskan komitmennya terhadap ekosistem Xbox dan komunitas pemain. “Kami akan memperbarui komitmen kepada para penggemar dan pemain inti Xbox, mereka yang telah berinvestasi bersama kami selama 25 tahun terakhir, serta para developer yang membangun dunia dan pengalaman bermain bagi pemain di seluruh dunia,” tulis Sharma.
Sharma juga menyoroti peran AI dan monetisasi dalam industri game, namun dengan penekanan pada kualitas dan kreativitas manusia. Ia menyatakan, “Seiring monetisasi dan AI berkembang dan memengaruhi masa depan ini, kami tidak akan mengejar efisiensi jangka pendek atau membanjiri ekosistem dengan konten AI tanpa jiwa. Game adalah dan akan selalu menjadi karya seni, dibuat oleh manusia, dan diciptakan dengan teknologi paling inovatif yang kami sediakan.” Komitmen terhadap konsol Xbox, yang pertama kali dirilis pada 2001, juga ditegaskan kembali.
Tantangan Bisnis dan Warisan Spencer
Pergantian kepemimpinan ini terjadi di tengah periode yang menantang bagi divisi Xbox. Pada kuartal Desember, pendapatan divisi game Microsoft dilaporkan turun sekitar 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penjualan konsol Xbox generasi terbaru juga tertinggal dari para pesaingnya di pasar global.
Meskipun demikian, Nadella mengakui peran krusial Spencer dalam membentuk kembali bisnis gaming Microsoft. “Selama 38 tahun di Microsoft, termasuk 12 tahun memimpin Gaming, Phil membantu mentransformasi apa yang kami lakukan dan bagaimana kami melakukannya,” kata Nadella. Spencer sendiri menyatakan akan terus mengikuti perkembangan industri game dan mendukung komunitasnya setelah pensiun.
Sebagai bagian dari restrukturisasi, Kepala Xbox Studios Matt Booty akan melapor kepada Sharma sebagai Executive Vice President dan Chief Content Officer. Sementara itu, Presiden Xbox Sarah Bond juga mengundurkan diri, menandai perombakan signifikan di jajaran eksekutif divisi gaming Microsoft.