PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk tengah melakukan langkah strategis besar untuk mereposisi aset infrastrukturnya melalui entitas baru bernama Infranexia. Langkah ini merupakan bagian dari agenda transformasi Telkom 30 yang bertujuan untuk melakukan unlock value terhadap aset fiber optik perusahaan yang mencapai 180.000 kilometer di seluruh Indonesia.
Transformasi Menuju FiberCo: Mengejar Valuasi Multiplier
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menjelaskan bahwa selama ini aset infrastruktur Telkom sering kali dinilai rendah oleh pasar karena masih menyatu dengan bisnis operator telekomunikasi. Secara industri, operator telekomunikasi di Indonesia biasanya memiliki valuasi sekitar 5 hingga 6 kali lipat multiple. Namun, jika dipisahkan menjadi perusahaan infrastruktur murni atau FiberCo, valuasinya bisa melonjak hingga 10-12 kali lipat.
Infranexia diproyeksikan menjadi kendaraan utama dalam mengelola jaringan fiber optik masif tersebut. Dengan pemisahan ini, Telkom berharap pasar dapat melihat nilai intrinsik dari infrastruktur fisik yang selama ini menjadi tulang punggung konektivitas nasional.
Timeline Migrasi Aset dan Target Operasional
Proses pembentukan Infranexia telah dimulai sejak Desember 2023. Berdasarkan peta jalan perusahaan, pemindahan aset dan perangkat teknis telah dimulai pada Desember 2025 dan ditargetkan rampung sepenuhnya pada pertengahan 2026. Berikut adalah target pencapaian Infranexia:
- Pertengahan 2026: Penyelesaian migrasi seluruh sisa aset fiber ke entitas Infranexia.
- Akhir 2026: Fase stabilisasi operasional dan tata kelola perusahaan.
- 2027: Infranexia resmi beroperasi penuh sebagai FiberCo yang matang.
Meningkatkan Utilisasi dan Terbuka untuk Hyperscaler
Saat ini, tingkat utilisasi jaringan fiber Telkom masih berada di kisaran 40–45 persen. Dengan menjadi entitas terpisah, Infranexia memiliki fleksibilitas lebih tinggi untuk membuka akses bagi pelanggan eksternal, termasuk operator pesaing, sektor enterprise, hingga perusahaan hyperscaler global.
Strategi ini menandai pergeseran paradigma dari penguasaan aset secara eksklusif atau monopoli menuju model kolaborasi terbuka. Telkom meyakini bahwa dengan membuka akses jaringan, efisiensi dan pendapatan dari aset infrastruktur akan meningkat secara signifikan.
Fokus pada Kualitas Layanan dan Opsi IPO
Di tengah persaingan industri yang ketat, Telkom menegaskan bahwa era perang harga telah berakhir dan kini fokus beralih pada kualitas layanan (quality of service). Dengan cakupan populasi mencapai 97 persen, kualitas jaringan dianggap sebagai hygiene factor yang tidak bisa ditawar.
| Indikator Strategis | Target/Status |
|---|---|
| Panjang Jaringan Fiber | 180.000 KM |
| Target Utilisasi | Peningkatan di atas 45% |
| Status Entitas | Pemisahan Aset (Spin-off) |
Terkait rencana masa depan, Telkom tidak menutup kemungkinan untuk melakukan penawaran saham perdana (IPO) bagi Infranexia. Namun, fokus jangka pendek tetap pada penguatan kapabilitas operasional, tata kelola, dan keunggulan layanan sebelum melangkah ke aksi korporasi yang lebih besar.