Sebuah survei komprehensif yang dilakukan oleh Politico mengungkapkan pergeseran signifikan dalam persepsi ancaman di kalangan publik negara-negara Barat. Temuan mengejutkan menunjukkan bahwa warga Eropa dan Kanada kini lebih mengkhawatirkan potensi agresi dari Amerika Serikat (AS), sekutu tradisional mereka, dibandingkan dengan ancaman dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT).
Studi yang melibatkan 2.000 responden di AS, Kanada, Inggris, Perancis, dan Jerman ini menyoroti erosi kepercayaan terhadap Washington, khususnya di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump. Pergeseran ini berpotensi memicu ketidakstabilan fundamental dalam arsitektur aliansi transatlantik yang telah lama menjadi pilar keamanan global.
Persepsi Ancaman yang Berubah di Kalangan Sekutu
Hasil survei Politico, yang dipublikasikan pada Jumat, 13 Februari 2026, secara spesifik menyoroti kekhawatiran mendalam di Kanada. Mayoritas warga Kanada memandang AS di era Trump sebagai bahaya terbesar bagi keamanan nasional mereka. Sentimen serupa juga tercatat di Eropa, di mana AS menempati posisi kedua sebagai ancaman terbesar bagi perdamaian di Perancis, Jerman, dan Inggris, hanya setelah Rusia.
Lebih lanjut, publik di ketiga negara Eropa tersebut menunjukkan tingkat kekhawatiran yang jauh lebih tinggi terhadap AS dibandingkan dengan RRT. Fenomena ini mengindikasikan bahwa retorika “presiden perdamaian” yang kerap diusung oleh Presiden Trump gagal meyakinkan baik pemilih domestik maupun sekutu internasional mengenai komitmen AS terhadap stabilitas.
Implikasi Strategis terhadap Aliansi Transatlantik
Seb Wride, Kepala Polling di Public First, menggarisbawahi bahwa perubahan sikap publik ini mencerminkan dinamika geopolitik yang semakin tidak menentu. “Perubahan sikap publik Barat dalam waktu kurang dari satu tahun mencerminkan langkah dramatis menuju dunia yang lebih tidak aman, di mana perang dianggap mungkin terjadi dan aliansi terasa tidak stabil,” ujar Wride.
Ketidakpastian ini menempatkan para pemimpin Eropa dalam posisi dilematis. Mereka merasa tidak lagi dapat sepenuhnya mengandalkan AS sebagai penjamin keamanan tradisional, namun pada saat yang sama, belum mampu mengkapitalisasi situasi ini untuk mendorong investasi pertahanan domestik yang substansial. Peningkatan frekuensi aksi militer AS di berbagai kawasan, termasuk Iran, Suriah, Venezuela, dan Afrika, turut memperkuat persepsi publik mengenai potensi eskalasi konflik global.
Eskalasi Kekhawatiran Konflik Global
Survei juga mengungkap peningkatan tajam kekhawatiran publik terhadap kemungkinan pecahnya konflik global berskala besar. Mayoritas responden di AS, Kanada, Perancis, dan Inggris meyakini bahwa Perang Dunia III lebih mungkin terjadi daripada tidak dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan jajak pendapat serupa yang dilakukan oleh Public First pada Maret 2025.
Di Inggris, 43 persen responden percaya perang dunia baru “mungkin” atau “sangat mungkin” pecah pada tahun 2031, naik dari 30 persen pada tahun sebelumnya. Di AS, angka tersebut mencapai 46 persen. Menariknya, Jerman menjadi satu-satunya negara dari lima yang disurvei di mana mayoritas masyarakat masih beranggapan bahwa perang global ketiga tidak akan terjadi dalam lima tahun ke depan. Selain itu, setidaknya sepertiga populasi di AS, Inggris, Perancis, dan Kanada percaya bahwa penggunaan senjata nuklir kemungkinan besar akan terjadi dalam lima tahun mendatang.
Analisis mengenai pergeseran persepsi ancaman dan dinamika aliansi ini didasarkan pada temuan survei Politico yang dirilis pada Jumat, 13 Februari 2026, serta laporan polling independen dari Public First.