Teheran membantah keras klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai pengembangan rudal balistik yang mampu mencapai daratan AS, memicu kembali perdebatan tentang kapabilitas militer Iran di tengah ketegangan regional dan negosiasi nuklir yang krusial. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, pada Rabu (25/2/2026), menegaskan bahwa tuduhan tersebut merupakan ‘kebohongan besar’ yang berulang.
Klaim Washington dan Bantahan Teheran
Dalam pidato kenegaraannya pada Selasa (24/2/2026), Presiden Trump menyatakan bahwa Iran sedang berupaya mengembangkan teknologi rudal jarak jauh yang mampu menjangkau daratan AS. “Mereka telah mengembangkan rudal yang dapat mengancam Eropa dan pangkalan kita di luar negeri,” ujar Trump, menambahkan, “Mereka sedang berupaya membangun rudal yang akan segera mencapai AS.”
Menanggapi hal tersebut, Baqaei, tanpa secara langsung menyebut nama Trump, menggunakan platform media sosial X untuk membantah tuduhan tersebut. “Apa pun yang mereka tuduhkan terkait program nuklir Iran, rudal balistik Iran, dan jumlah korban jiwa selama kerusuhan Januari, hanyalah pengulangan kebohongan besar,” tegas Baqaei.
Analisis Kapabilitas Rudal Iran
Klaim Trump mengenai kapabilitas rudal Iran melampaui penilaian Badan Intelijen Pertahanan AS (DIA) yang dirilis pada tahun 2025. Saat itu, DIA menyebut Iran baru berpotensi mengembangkan rudal balistik antarbenua (ICBM) yang layak secara militer pada tahun 2035, dengan catatan jika Teheran memutuskan untuk mengejar kemampuan tersebut.
Berdasarkan data dari Layanan Penelitian Kongres AS, Iran saat ini diketahui memiliki rudal balistik jarak pendek dan menengah dengan jangkauan maksimal sekitar 3.000 kilometer. Perbandingan geografis menunjukkan bahwa jarak antara daratan utama Amerika Serikat dengan wilayah barat Iran mencapai lebih dari 9.600 kilometer, mengindikasikan kesenjangan signifikan antara kapabilitas saat ini dan klaim yang dilontarkan Washington.
Dinamika Negosiasi Nuklir dan Tekanan AS
Di tengah ketegangan ini, Washington dan Teheran telah menyelesaikan dua putaran pembicaraan yang bertujuan mencapai kesepakatan baru mengenai program nuklir Iran, menggantikan perjanjian yang dibatalkan Trump selama masa jabatan pertamanya. Amerika Serikat secara berulang kali menyerukan penghentian pengayaan uranium oleh Iran, serta penghentian program rudal balistik dan dukungannya terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan.
Namun, Iran telah menolak dua usulan terakhir AS. Sebagai bentuk tekanan, Washington telah mengerahkan kekuatan militer besar-besaran ke Timur Tengah, termasuk dua kapal induk, lebih dari selusin kapal lainnya, sejumlah besar pesawat tempur, dan aset strategis lainnya. Presiden Trump berulang kali mengancam akan melancarkan serangan terhadap Iran jika negosiasi gagal mencapai kesepakatan baru. Pembicaraan dengan Teheran dijadwalkan akan berlanjut pada Kamis (26/2/2026) di Jenewa, Swiss.
Analisis mengenai kapabilitas rudal Iran dan dinamika negosiasi ini didasarkan pada pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Iran, pidato Presiden AS, laporan Badan Intelijen Pertahanan AS (DIA) tahun 2025, serta data dari Layanan Penelitian Kongres AS.