Iran melancarkan peringatan keras kepada Israel melalui pemasangan spanduk ancaman di Teheran dan pernyataan diplomatik, menjelang pertemuan krusial antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pertemuan yang dijadwalkan di Washington ini diperkirakan akan berfokus pada negosiasi terkait program nuklir Iran dan stabilitas regional.
Ancaman Rudal dan Peringatan Diplomatik
Pada Senin, 9 Februari 2026, sebuah spanduk besar terpampang di Palestine Square, Teheran, menampilkan peta wilayah Israel yang menjadi target rudal dengan tulisan “You start, we finish it!”. Media Israel menafsirkan pesan ini sebagai peringatan eksplisit Iran untuk menyerang kota-kota Israel dengan rentetan rudal jika terjadi konfrontasi di masa depan.
Sehari setelahnya, Selasa, 10 Februari 2026, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqaei, memperingatkan adanya pengaruh “destruktif” terhadap diplomasi menjelang kunjungan Netanyahu ke Washington. Baqaei menegaskan bahwa Amerika Serikat harus bertindak independen dari tekanan yang merugikan kawasan. “Rezim Zionis telah berulang kali, sebagai seorang sabotase, menunjukkan bahwa mereka menentang setiap proses diplomatik di kawasan kita yang mengarah pada perdamaian,” ujar Baqaei.
Posisi Negosiasi dan Isu Nuklir
Baqaei juga menegaskan bahwa fokus Iran akan tetap pada masalah nuklir sebagai imbalan atas pencabutan sanksi, merujuk pada “pengalaman bulan Juni yang sangat buruk” sebagai pelajaran. Iran bertekad untuk mengamankan kepentingan nasionalnya melalui jalur diplomasi.
Sementara itu, kantor Perdana Menteri Netanyahu pada Sabtu, 7 Februari 2026, menyatakan bahwa Israel meyakini setiap negosiasi harus mencakup pembatasan rudal balistik Iran dan penghentian dukungan Teheran terhadap “poros Iran”, merujuk pada kelompok-kelompok bersenjata sekutu Iran di kawasan tersebut.
Dinamika Pertemuan Diplomatik
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan utusan AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff telah bertemu di Oman pada Jumat, 6 Februari 2026, dalam negosiasi pertama sejak konflik Juni lalu. Kedua belah pihak sepakat untuk melanjutkan negosiasi, namun Araghchi memperingatkan bahwa ketidakpercayaan yang telah berkembang merupakan tantangan serius.
Presiden Trump secara konsisten menyerukan larangan total pengayaan uranium oleh Iran, sebuah tuntutan yang tidak dapat diterima oleh Teheran dan dinilai jauh lebih merugikan dibandingkan perjanjian nuklir tahun 2015. Iran menegaskan haknya atas program nuklir sipil berdasarkan ketentuan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), yang telah ditandatangani oleh Iran dan 190 negara lainnya.
Analisis mengenai dinamika diplomatik dan militer ini didasarkan pada laporan media internasional dan pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Iran serta kantor Perdana Menteri Israel yang dirilis pada awal Februari 2026.