Pemerintah Iran kembali menjatuhkan vonis tambahan terhadap Narges Mohammadi, aktivis hak asasi manusia (HAM) sekaligus peraih Nobel Perdamaian, di tengah aksi mogok makan yang ia jalani. Putusan ini, yang diumumkan oleh para pendukung Mohammadi pada Minggu (8/2/2026), dipandang sebagai indikasi peningkatan tekanan Teheran terhadap gerakan protes domestik.
Eskalasi Penindasan terhadap Aktivis HAM
Pengacara Mohammadi, Mostafa Nili, mengonfirmasi vonis tersebut melalui unggahan di media sosial X. Mohammadi dijatuhi hukuman enam tahun penjara atas tuduhan berkumpul dan bersekongkol, serta 1,5 tahun karena melakukan propaganda. Selain itu, pengadilan juga menjatuhkan larangan bepergian selama dua tahun dan sanksi pengasingan internal selama dua tahun ke kota Khosf, sekitar 740 kilometer dari Ibu Kota Teheran. Putusan ini dijatuhkan oleh pengadilan di Kota Mashhad pada Sabtu (7/2/2026).
Vonis tambahan ini menambah daftar hukuman yang telah diterima Mohammadi. Sebelumnya, ia telah divonis 13 tahun 9 bulan penjara atas tuduhan kolusi terhadap keamanan negara dan propaganda melawan pemerintah. Langkah hukum ini menggarisbawahi strategi pemerintah Iran dalam membungkam suara-suara kritis, terutama pasca-gelombang unjuk rasa nasional yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini pada tahun 2022.
Kondisi Kesehatan dan Seruan Kemanusiaan
Narges Mohammadi, yang kini berusia 53 tahun, memulai aksi mogok makan sejak 2 Februari 2026 sebagai bentuk protes atas perlakuan otoritas penjara. Kondisi kesehatannya terus menjadi perhatian serius. Ia sempat menjalani perawatan medis pada Desember 2024 setelah mengalami masalah kesehatan serius, termasuk beberapa serangan jantung dan operasi darurat pada tahun 2022. Pada akhir 2024, tim medis menemukan lesi tulang yang berhasil diangkat, meskipun sempat dicurigai sebagai kanker.
Mengingat riwayat penyakit yang dideritanya, tim pengacara Mohammadi mengharapkan kebijakan kemanusiaan dari Pemerintah Iran. Mereka menyerukan pembebasan sementara dengan jaminan agar Mohammadi dapat memperoleh perawatan medis yang memadai di luar penjara.
Latar Belakang Penangkapan dan Perjuangan Mohammadi
Mohammadi kembali ditangkap pada Desember 2025 saat menghadiri upacara peringatan untuk mendiang Khosrow Alikordi, seorang advokat HAM di Mashhad. Dalam rekaman yang beredar, ia terlihat menyuarakan tuntutan keadilan bagi Alikordi dan para aktivis lainnya. Mohammadi dikenal sebagai tokoh vokal yang mendukung protes nasional menyusul kematian Mahsa Amini, yang memicu gelombang perlawanan terhadap aturan wajib hijab di Iran.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari otoritas Iran terkait vonis tambahan tersebut. Analisis mengenai vonis ini didasarkan pada laporan The Guardian yang mengutip pernyataan para pendukung Mohammadi dan unggahan pengacaranya di media sosial X pada 8 Februari 2026.