TEHERAN – Seyyed Mojtaba Khamenei, putra kedua mendiang Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan mengemuka sebagai kandidat kuat Pemimpin Tertinggi Iran yang baru. Perkembangan ini menyusul wafatnya sang ayah dalam insiden yang disebut sebagai serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel di Teheran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Transisi kepemimpinan ini berpotensi memicu perubahan signifikan dalam lanskap politik dan keamanan regional.
Latar Belakang Insiden dan Proses Suksesi
Menurut laporan sejumlah media Iran, termasuk kantor berita pemerintah Fars, Ayatollah Ali Khamenei tewas di kantornya bersama sekitar 40 komandan senior. Anggota keluarganya juga dilaporkan meninggal dunia dalam insiden tersebut. Kematian mendadak Pemimpin Tertinggi ini mempercepat proses suksesi yang telah menjadi subjek spekulasi di kalangan elite politik Iran.
Persiapan untuk menjadikan Mojtaba sebagai Pemimpin Tertinggi telah berlangsung selama dua tahun terakhir, sebagaimana dikutip dari Bhaskar English pada Minggu, 1 Maret 2026. Pencalonan ini belum dikonfirmasi secara resmi, namun laporan media menyebut Ayatollah Ali Khamenei telah mengisyaratkan Mojtaba sebagai calon penerus pada 2024 di tengah kekhawatiran atas kondisi kesehatannya.
Majelis Ahli, sebuah lembaga yang terdiri dari 88 ulama terpilih yang berwenang memilih dan mengawasi Pemimpin Tertinggi, dilaporkan menggelar diskusi rahasia pada 26 September 2024 untuk membahas isu suksesi. Mojtaba dikabarkan mendapat dukungan kuat dari kalangan ulama berpengaruh, meskipun keputusan akhir tetap berada di tangan Majelis Ahli.
Profil dan Pengaruh Mojtaba Khamenei
Di ranah politik dan keagamaan Iran, Mojtaba Khamenei bukan sosok asing. Ia dikenal memiliki kapabilitas dalam teologi Islam dan dinilai mampu mempertahankan pengaruh di lembaga keagamaan maupun politik. Sorotan internasional terhadap Mojtaba menguat saat krisis pemilihan presiden Iran pada 2009, di mana ia diyakini memainkan peran penting di balik layar dalam mengelola respons negara terhadap kerusuhan pasca-pemilu.
Meskipun tidak memegang jabatan pemerintahan formal, pengaruh Mojtaba dilaporkan terus meningkat. Sejumlah individu yang dekat dengannya menempati posisi strategis di lembaga intelijen dan institusi negara utama, memperkuat otoritas informalnya dalam struktur kekuasaan Iran. Pengaruhnya semakin menguat setelah Ebrahim Raisi menjabat Presiden Iran, memicu spekulasi mengenai persiapan Mojtaba untuk peran kepemimpinan yang lebih besar.
Otoritas Pemimpin Tertinggi Iran
Posisi Pemimpin Tertinggi atau Rahbar di Iran merupakan otoritas tertinggi negara, mengendalikan lembaga-lembaga utama termasuk militer dan peradilan. Rahbar juga menjabat sebagai Panglima Tertinggi angkatan bersenjata serta mengambil keputusan krusial dalam urusan pemerintahan, militer, masyarakat, dan kebijakan luar negeri.
Iran menjadi salah satu dari sedikit negara di dunia yang pemimpin agamanya memegang kekuasaan politik tertinggi, kerap disamakan dengan otoritas Paus di Vatikan. Sejak Revolusi Iran, hanya dua tokoh yang pernah menduduki jabatan ini: Ayatollah Ruhollah Khomeini dan Ayatollah Ali Khamenei, yang menjabat selama 37 tahun sejak 1989. Keberadaan Presiden, Parlemen, Dewan Penjaga, dan Majelis Ahli tidak mengurangi dominasi otoritas Pemimpin Tertinggi dalam struktur politik Iran.
Analisis mengenai dinamika suksesi ini didasarkan pada laporan media Iran dan internasional, serta pernyataan resmi yang dirilis oleh kantor berita pemerintah Iran pada periode terkait. Informasi mengenai insiden di Teheran masih dalam tahap verifikasi dan investigasi oleh otoritas terkait.