Kelompok ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri di sebuah masjid di Islamabad, Pakistan, pada Jumat, 6 Februari 2026, yang menewaskan sedikitnya 31 orang dan melukai 169 lainnya. Insiden ini menandai eskalasi signifikan dalam ancaman terorisme di ibu kota Pakistan, memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas keamanan regional dan kapasitas kontraterorisme negara tersebut.
Modus Operandi dan Klaim Tanggung Jawab
Menurut laporan dari SITE Intelligence Group, sebuah entitas yang memantau komunikasi kelompok ekstremis, serangan tersebut dilakukan oleh seorang militan ISIS yang meledakkan rompi berisi bahan peledak di dalam masjid Imam Bargah Qasr-e-Khadijatul Kubra di daerah Tarlai, pinggiran Islamabad. Sumber keamanan mengonfirmasi bahwa pelaku dihentikan di gerbang masjid sebelum berhasil meledakkan diri, meskipun upaya tersebut tidak sepenuhnya mencegah jatuhnya korban jiwa dan luka-luka.
Kesaksian jemaah, seperti Muhammad Kazim (52), menggambarkan ledakan dahsyat yang mengguncang bangunan saat salat Jumat baru dimulai, didahului oleh suara tembakan. Imran Mahmood, jemaah lain yang berada di lokasi, menambahkan bahwa baku tembak sempat terjadi antara pelaku dan personel keamanan sukarelawan masjid sebelum ledakan fatal, menunjukkan adanya perlawanan awal terhadap penyerang.
Dampak Kemanusiaan dan Respons Domestik
Serangan ini menjadi yang paling mematikan di Islamabad sejak pengeboman hotel Marriott pada tahun 2008, menyoroti kerentanan Pakistan terhadap aksi terorisme yang terus-menerus. Jumlah korban tewas diperkirakan akan terus meningkat mengingat banyaknya korban luka parah yang dilarikan ke Institut Ilmu Kedokteran Pakistan, beberapa di antaranya dalam kondisi kritis.
Perdana Menteri Shehbaz Sharif bersumpah untuk mengadili para pelaku di balik serangan ini, menegaskan komitmen pemerintah untuk memerangi terorisme. Wakil Perdana Menteri Ishaq Dar mengecam serangan tersebut sebagai “kejahatan keji terhadap kemanusiaan dan pelanggaran terang-terangan terhadap prinsip-prinsip Islam,” memperkuat posisi pemerintah Pakistan yang bersatu melawan terorisme dalam segala bentuknya.
Implikasi Strategis dan Ancaman Regional
Klaim tanggung jawab oleh ISIS menggarisbawahi kapasitas kelompok tersebut untuk melancarkan serangan di pusat-pusat perkotaan yang dijaga ketat, secara langsung menantang upaya kontraterorisme Pakistan. Insiden ini berpotensi memperburuk dinamika keamanan di Asia Selatan, terutama mengingat kompleksitas hubungan regional dan kehadiran kelompok ekstremis lainnya yang beroperasi di wilayah tersebut.
Serangan ini juga dapat memicu peningkatan operasi keamanan domestik dan memperkuat seruan untuk kerja sama intelijen yang lebih erat dengan mitra internasional guna membendung penyebaran ideologi ekstremis dan kapasitas operasional kelompok teroris yang terus berevolusi.
Analisis mengenai insiden ini didasarkan pada laporan awal dari otoritas keamanan Pakistan, pernyataan resmi pemerintah, dan pemantauan komunikasi kelompok ekstremis oleh SITE Intelligence Group yang dirilis pada 7 Februari 2026.