Internasional

Thailand: Kematian Massal 72 Harimau Akibat Virus Distemper Guncang Taman Hewan Pribadi di Chiang Mai

Sebanyak 72 ekor harimau dilaporkan mati dalam beberapa pekan terakhir di sebuah taman hewan pribadi di Provinsi Chiang Mai, Thailand utara. Insiden ini, yang dikonfirmasi oleh Kantor Peternakan Provinsi Chiang Mai pada Jumat (20/2/2026), disebabkan oleh kombinasi virus distemper anjing yang sangat menular dan infeksi bakteri pernapasan. Kematian massal ini memicu kekhawatiran serius mengenai standar kesejahteraan satwa liar di fasilitas penangkaran komersial.

Penyelidikan Ungkap Virus Distemper sebagai Pemicu Kematian Massal

Kantor Peternakan Provinsi Chiang Mai mengumumkan hasil pengujian laboratorium yang mengidentifikasi virus distemper anjing sebagai faktor utama di balik kematian harimau-harimau tersebut. Virus ini, yang dikenal sangat menular di antara karnivora, diperparah oleh infeksi bakteri sekunder yang menyerang sistem pernapasan hewan. Direktur Departemen Peternakan Nasional Thailand, Somchuan Ratanamungklanon, menyoroti tantangan dalam mendeteksi penyakit pada harimau.

“Ketika harimau jatuh sakit, lebih sulit untuk mendeteksinya daripada pada hewan seperti kucing atau anjing. Pada saat kami menyadari mereka sakit, sudah terlambat,” jelas Somchuan kepada media lokal, menggarisbawahi kompleksitas penanganan kesehatan satwa liar berukuran besar.

Sorotan Terhadap Praktik Kesejahteraan Satwa di Fasilitas Komersial

Taman hewan yang menjadi lokasi insiden, Tiger Kingdom, dikenal menawarkan pengalaman interaktif bagi wisatawan untuk menyentuh dan berfoto bersama harimau. Hingga Sabtu (21/2/2026), pihak Tiger Kingdom belum memberikan tanggapan resmi terkait kematian massal ini.

Organisasi perlindungan hewan PETA Asia mengecam insiden tersebut, menyebutnya sebagai cerminan buruknya kondisi kesejahteraan hewan di fasilitas penangkaran komersial. “Harimau-harimau ini mati seperti cara mereka hidup—dalam kesengsaraan, kurungan, dan ketakutan,” kata perwakilan PETA Asia kepada kantor berita AFP. Kelompok itu menambahkan, “Jika wisatawan menjauh, tempat-tempat ini akan cepat kehilangan profit, dan tragedi seperti ini akan jauh lebih kecil kemungkinannya terjadi,” menekankan dampak ekonomi sebagai pendorong perubahan.

Informasi mengenai insiden ini didasarkan pada pernyataan resmi Kantor Peternakan Provinsi Chiang Mai pada 20 Februari 2026, laporan media lokal, dan kutipan dari organisasi perlindungan hewan PETA Asia.