Internasional

Thailand: Kepolisian Lumpuhkan Pelaku Penembakan di Sekolah Songkhla, Tiga Korban Luka, Menyoroti Isu Senjata Api

Kepolisian Thailand berhasil melumpuhkan dan menangkap seorang pria bersenjata yang diduga menjadi pelaku penembakan di sebuah sekolah di wilayah Songkhla, Thailand selatan, pada Rabu, 11 Februari 2026. Insiden ini menyebabkan seorang wanita dan dua anak terluka, kembali menyoroti tantangan serius dalam regulasi kepemilikan senjata api di negara tersebut.

Biro Investigasi Pusat Thailand mengonfirmasi bahwa petugas sempat melepaskan tembakan ke arah tersangka sebelum berhasil melakukan penangkapan di lokasi kejadian. Kementerian Kesehatan Publik Thailand melaporkan bahwa dua korban, seorang wanita dan seorang gadis berusia 14 tahun, mengalami luka serius akibat tembakan dan telah menjalani operasi. Satu anak lainnya mengalami cedera pergelangan kaki saat berupaya menyelamatkan diri.

Latar Belakang Insiden dan Isu Senjata Api Nasional

Menurut keterangan pemerintah provinsi Songkhla, tersangka memasuki Sekolah Phatong Prathan Khiriwat dalam kondisi yang tidak stabil dan membawa senjata api. Situasi mencekam terjadi tak lama setelah tersangka masuk, di mana terdengar sekitar dua hingga tiga letusan tembakan. Seorang administrator sekolah yang berada di lokasi kejadian menyatakan trauma mendalam atas insiden tersebut.

Insiden ini menambah daftar panjang kekerasan senjata api yang terjadi di Thailand, sebuah negara yang diperkirakan memiliki sekitar 10 juta pucuk senjata api yang beredar, atau setara dengan satu senjata untuk setiap tujuh penduduk. Angka ini menjadikan Thailand salah satu negara dengan tingkat kepemilikan senjata api tertinggi di Asia Tenggara.

Respons dan Implikasi Kebijakan

Meskipun pemerintah Thailand berulang kali menjanjikan pengetatan undang-undang senjata api, tragedi serupa terus berulang. Pada tahun 2023, seorang remaja berusia 14 tahun menembak mati dua orang di sebuah mal di Bangkok. Sebelumnya, pada tahun 2022, seorang mantan polisi melakukan penyerangan di tempat penitipan anak yang menewaskan 24 anak-anak dan 12 orang dewasa, menjadikannya salah satu pembantaian paling mematikan dalam sejarah Thailand. Pada tahun 2020, seorang mantan perwira tentara juga menewaskan 29 orang dalam aksi penembakan brutal di sebuah mal di kota Nakhon Ratchasima.

Serangkaian insiden ini menuntut evaluasi komprehensif terhadap kebijakan keamanan publik dan efektivitas regulasi senjata api di Thailand. Pemerintah menghadapi tekanan untuk tidak hanya memperketat kontrol senjata, tetapi juga mengatasi akar masalah yang berkontribusi pada kekerasan semacam ini, termasuk isu kesehatan mental dan akses terhadap senjata ilegal.

Analisis mengenai insiden penembakan ini didasarkan pada pernyataan resmi Biro Investigasi Pusat Thailand dan laporan Kementerian Kesehatan Publik Thailand yang dirilis pada 11 Februari 2026.