Internasional

Tiongkok: Bantah Kesepakatan Rudal Supersonik CM-302 dengan Iran di Tengah Ketegangan Regional

Beijing, 04 Maret 2026 – Kementerian Luar Negeri Tiongkok secara tegas membantah laporan mengenai penyelesaian kesepakatan penjualan rudal supersonik anti-kapal CM-302 kepada Iran. Penyangkalan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional, termasuk laporan serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang menyoroti urgensi strategis dari potensi transfer teknologi militer canggih tersebut.

Latar Belakang dan Klaim Penjualan

Laporan awal, yang dikutip oleh Reuters, mengindikasikan bahwa negosiasi antara Tiongkok dan Iran untuk akuisisi sistem rudal tersebut telah berlangsung setidaknya selama dua tahun dan mengalami peningkatan signifikan pasca-konflik 12 hari antara Israel dan Iran pada Juni tahun lalu. Pembicaraan dilaporkan memasuki tahap akhir pada musim panas lalu, melibatkan kunjungan pejabat militer dan pemerintah senior Iran ke Tiongkok, termasuk Wakil Menteri Pertahanan Iran, Massoud Oraei.

Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Iran, yang tidak disebutkan namanya, menyatakan bahwa Iran memiliki perjanjian militer dan keamanan dengan sekutunya, dan saat ini adalah waktu yang tepat untuk memanfaatkan perjanjian-perjanjian tersebut. Namun, rincian mengenai jumlah rudal, nilai kesepakatan, atau status terkini negosiasi belum dapat dikonfirmasi secara independen.

Kapabilitas Rudal CM-302 dan Potensi Akuisisi Lain

Rudal CM-302, yang dipasarkan oleh China Aerospace Science and Industry Corporation (CASIC), diklaim sebagai rudal anti-kapal terbaik di dunia. Sistem senjata ini memiliki kapabilitas untuk menenggelamkan kapal induk atau kapal perusak, serta dapat dipasang pada platform kapal, pesawat terbang, atau kendaraan darat bergerak untuk menghancurkan target di darat.

Selain CM-302, Iran juga disebut-sebut sedang dalam diskusi untuk mengakuisisi sistem rudal permukaan-ke-udara buatan Tiongkok, yang dikenal sebagai MANPADS, serta senjata anti-balistik dan senjata anti-satelit. Potensi transfer teknologi ini dapat secara signifikan mengubah keseimbangan kekuatan militer di kawasan Timur Tengah.

Posisi Tiongkok dan Konteks Historis

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Mao Ning, menepis laporan tersebut sebagai bagian dari kampanye disinformasi. “Laporan itu tidak benar. Sebagai negara besar yang bertanggung jawab, Tiongkok selalu mematuhi kewajiban internasionalnya,” tegas Mao Ning, sebagaimana dikutip dari Business Standard. Ia menambahkan bahwa Tiongkok menentang asosiasi yang bermaksud buruk dan penyebaran disinformasi, serta berharap pihak-pihak terkait akan memilih tindakan yang kondusif untuk meredakan situasi tegang.

Hubungan pertahanan strategis antara Tiongkok dan Iran memang erat, dengan Iran menjadi salah satu pemasok minyak terbesar ke Tiongkok. Secara historis, Tiongkok adalah pemasok senjata utama bagi Iran pada tahun 1980-an, namun transfer senjata skala besar menurun pada akhir 1990-an akibat tekanan internasional.

Analisis mengenai laporan potensi penjualan alutsista ini didasarkan pada laporan media internasional terkemuka dan pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Tiongkok serta pejabat Iran yang dirilis pada periode terkait.