Sebuah jet tempur J-16 milik Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) Tiongkok dilaporkan menembakkan suar pengalih ke arah pesawat F-16 Taiwan pada Desember lalu. Insiden ini terjadi di tengah latihan militer besar Tiongkok di sekitar Selat Taiwan, memicu kekhawatiran serius akan eskalasi ketegangan di kawasan strategis tersebut.
Laporan mengenai manuver tersebut diungkap melalui dokumen Kementerian Pertahanan Taiwan yang juga dibagikan kepada militer Amerika Serikat, menyoroti dinamika kekuatan yang semakin kompleks di Asia Timur.
Detail Manuver Udara Agresif
Laporan Kementerian Pertahanan Taiwan merinci insiden tersebut, di mana jet J-16 Tiongkok menembakkan suar saat F-16 Taiwan melakukan pengerahan cepat (scramble) untuk merespons upaya jet Tiongkok melintasi garis median Selat Taiwan, batas de facto yang memisahkan kedua pihak. Manuver ini dianggap sebagai provokasi serius yang menguji kedaulatan teritorial Taiwan.
Dalam insiden lain selama latihan yang sama, sebuah J-16 Tiongkok terbang sangat dekat di belakang F-16 Taiwan, dalam posisi yang digambarkan sebagai “pada dasarnya dalam posisi menembak”. Tiongkok juga menggunakan taktik yang disebut “piggybacking”, yaitu menyembunyikan jet tempur dari deteksi radar dengan menerbangkannya tepat di bawah pembom H-6K.
Sumber yang mendapat pengarahan tentang insiden tersebut menyatakan, “Ketika mereka terdeteksi, pilot Tiongkok memiringkan pesawatnya ke samping dan memperlihatkan rudal-rudal di bawah badan pesawatnya,” mengindikasikan demonstrasi kekuatan yang disengaja dan agresif.
Latihan “Justice Mission” dan Konteks Regional
Rangkaian insiden ini terjadi selama latihan militer Tiongkok berskala besar yang dikenal sebagai “Justice Mission”, berlangsung selama 24 jam pada akhir Desember. Kementerian Pertahanan Taiwan mendeteksi 130 pesawat militer Tiongkok di sekitar pulau itu, dengan 90 di antaranya melintasi garis median Selat Taiwan.
Manuver penembakan suar ini memiliki preseden serupa. Pada awal Desember, pesawat PLA mengunci radar ke jet Jepang, sebuah tindakan yang secara umum dianggap sebagai sinyal serangan serius. Insiden ini juga disamakan dengan ketegangan antara Tiongkok dan Filipina pada Desember, ketika pesawat Tiongkok menembakkan suar ke arah pesawat patroli Filipina di Laut Cina Selatan.
Meskipun beberapa pihak menilai insiden dengan Jepang lebih serius, sumber lain menekankan bahwa penembakan suar dalam jarak sedekat itu dengan jet Taiwan sangat berbahaya, meningkatkan risiko insiden yang tidak disengaja.
Peningkatan Tekanan Militer Tiongkok
Tiongkok secara konsisten meningkatkan tekanan militer terhadap Taiwan, yang dianggapnya sebagai provinsi pemberontak dan bagian integral dari wilayahnya. Laporan pertahanan tahunan Amerika Serikat mengindikasikan bahwa Tiongkok menargetkan kemampuan untuk berperang dan memenangkan konflik melawan Taiwan pada akhir tahun 2027.
Dalam lima tahun terakhir, media pemerintah Tiongkok melaporkan bahwa penjaga pantai negara itu telah mengerahkan 550.000 kapal dan 6.000 pesawat di sekitar kepulauan, menunjukkan peningkatan signifikan dalam kehadiran maritim dan udara di wilayah sengketa dan zona identifikasi pertahanan udara Taiwan.
Dampak Gejolak Internal PLA
Latihan “Justice Mission” berlangsung di tengah gejolak internal signifikan dalam tubuh militer Tiongkok. Presiden Xi Jinping dilaporkan telah mencopot hampir semua wakil petinggi militer, kecuali satu orang, yang bertanggung jawab atas perencanaan invasi ke Taiwan.
Para pengamat menilai taktik yang digunakan dalam latihan tersebut, termasuk “gerakan yang lebih agresif dan munculnya manuver yang sangat tidak biasa,” bisa menjadi indikasi bahwa pembersihan internal tersebut berdampak pada rantai komando PLA. Para ahli berpendapat bahwa langkah ini hampir pasti memengaruhi kemampuan Xi dan militer Tiongkok untuk melancarkan serangan dalam waktu dekat, meskipun tekanan eksternal tetap tinggi.
Analisis mengenai insiden dan pergerakan militer ini didasarkan pada dokumen resmi Kementerian Pertahanan Taiwan, laporan intelijen publik Amerika Serikat, dan pernyataan resmi dari sumber yang mendapat pengarahan mengenai dinamika keamanan regional.