Takhta Suci secara resmi menyatakan tidak akan bergabung dengan Board of Peace atau Dewan Perdamaian, sebuah inisiatif diplomatik yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Keputusan ini menegaskan posisi independen Vatikan dalam arsitektur keamanan global dan diplomasi internasional yang mengedepankan netralitas aktif.
Status Khusus Takhta Suci dan Kedaulatan Diplomatik
Sekretaris Negara Vatikan, Kardinal Pietro Parolin, menjelaskan bahwa penolakan tersebut berakar pada karakter khas Takhta Suci yang secara fundamental berbeda dari negara-negara berdaulat pada umumnya. Pernyataan ini disampaikan di Palazzo Borromeo, Roma, bertepatan dengan peringatan Pakta Lateran 1929 yang mengakui kedaulatan Negara Kota Vatikan.
Parolin menegaskan bahwa posisi Vatikan dalam forum internasional tidak dapat disamakan dengan negara peserta lain. Hal ini berkaitan dengan misi moral dan religius Takhta Suci yang melampaui kepentingan politik praktis antarnegara.
Kritik Terhadap Ambiguitas dan Peran Institusi Internasional
Vatikan menyoroti adanya sejumlah poin yang dianggap membingungkan dalam struktur operasional dan mandat Dewan Perdamaian tersebut. Salah satu perhatian utama adalah potensi marginalisasi peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam manajemen krisis global.
- Legitimasi Internasional: Vatikan menekankan bahwa PBB harus tetap menjadi otoritas utama dalam mengelola situasi krisis di tingkat global.
- Ketidakjelasan Mekanisme: Terdapat isu-isu kritis yang belum teratasi terkait bagaimana dewan ini akan beroperasi di luar kerangka multilateral yang sudah ada.
- Posisi Pengamat: Meskipun Italia berpartisipasi sebagai pengamat, Vatikan tetap pada keputusan final untuk tidak terlibat dalam badan independen tersebut.
Dinamika Partisipasi Global dan Stagnasi Konflik
Meskipun Vatikan menolak, inisiatif Board of Peace telah menarik minat lebih dari 25 negara. Badan ini dirancang untuk berfokus pada penyelesaian konflik global, termasuk eskalasi di Gaza, dengan mekanisme di luar struktur birokrasi PBB.
| Kawasan | Negara Partisipan |
| Timur Tengah | Israel, Uni Emirat Arab, Mesir, Maroko |
| Eropa & Asia | Belarus, Bulgaria, Hongaria, Indonesia |
| Amerika Latin | Argentina, El Salvador, Paraguay |
Di sisi lain, Parolin juga memberikan catatan mengenai stagnasi perang di Ukraina yang telah berlangsung selama empat tahun. Ia menggambarkan situasi tersebut dengan pesimisme besar karena belum adanya kemajuan nyata menuju de-eskalasi. Analisis mengenai posisi diplomatik ini didasarkan pada pernyataan resmi Sekretariat Negara Takhta Suci dan laporan korespondensi diplomatik yang dirilis pada 17 Februari 2026.