Internasional

Venezuela: Pemimpin Oposisi Diculik Kembali Pasca-Bebas di Caracas, Picu Kecaman Internasional

Pada Minggu, 8 Februari 2026, Juan Pablo Guanipa, seorang pemimpin oposisi terkemuka di Venezuela, dilaporkan diculik di lingkungan Los Chorros, Caracas, hanya beberapa jam setelah dibebaskan dari penahanan. Insiden ini, yang dikonfirmasi oleh rekan politiknya, Maria Corina Machado, memicu kekhawatiran serius mengenai komitmen pemerintah Venezuela terhadap supremasi hukum dan hak asasi manusia, serta berpotensi memperburuk ketegangan politik di kawasan.

Latar Belakang Penahanan dan Pembebasan

Guanipa, mantan wakil presiden Majelis Nasional dan tokoh sentral dalam partai Justice First, sebelumnya menghabiskan delapan bulan di penjara. Penahanannya pada Mei 2025 terjadi setelah ia dituduh melakukan terorisme dan pengkhianatan karena menentang hasil pemilihan umum 2024. Ia juga dilarang menjabat sebagai gubernur wilayah Zulia pada tahun 2017 setelah menolak bersumpah di hadapan Majelis Konstituen Nasional yang dibentuk oleh Presiden Nicolás Maduro. Pembebasannya pada Minggu merupakan bagian dari kelompok setidaknya 30 tahanan politik, menurut laporan Foro Penal, sebuah organisasi yang memberikan bantuan hukum bagi tahanan politik di Venezuela.

Kronologi Penculikan dan Reaksi Oposisi

Maria Corina Machado melaporkan melalui media sosial pada Senin, 9 Februari 2026, bahwa sekelompok pria bersenjata lengkap berpakaian sipil tiba dengan empat kendaraan dan membawa Guanipa secara paksa. Saksi mata menyebutkan para pelaku sempat menodongkan senjata sebelum memaksa Guanipa masuk ke mobil. Partai Justice First segera mengecam insiden tersebut sebagai “aksi penculikan oleh pasukan represif kediktatoran” dan secara eksplisit menuntut pertanggungjawaban dari pejabat tinggi pemerintah, termasuk Delcy Rodriguez, Jorge Rodriguez, dan Diosdado Cabello. Ramon Guanipa, putra Juan Pablo, juga menuntut bukti keberadaan ayahnya dan menyatakan rezim bertanggung jawab atas keselamatannya.

Implikasi Regional dan Seruan Internasional

Penculikan Guanipa, tak lama setelah pembebasannya, menggarisbawahi pola penindasan terhadap perbedaan pendapat yang telah lama dituduhkan oleh kelompok oposisi dan organisasi hak asasi manusia terhadap pemerintahan Maduro. Insiden ini berpotensi memicu gelombang kecaman internasional baru dan memperkuat seruan untuk intervensi guna mengakhiri represi politik di Venezuela. Komunitas internasional, termasuk organisasi regional, diharapkan untuk meninjau kembali posisi mereka terkait situasi hak asasi manusia dan stabilitas politik di negara tersebut, mengingat dampak insiden semacam ini terhadap kredibilitas proses demokratis.

Analisis mengenai insiden ini didasarkan pada pernyataan resmi dari Maria Corina Machado dan Partai Justice First yang dirilis melalui saluran media sosial mereka pada 9 Februari 2026, serta laporan dari organisasi hak asasi manusia seperti Foro Penal.