Pada Sabtu, 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer gabungan berskala besar terhadap Iran, menargetkan sejumlah lokasi strategis termasuk ibu kota Teheran. Serangan ini, yang dinamai “Operation Epic Fury” oleh Departemen Pertahanan AS dan “Lion’s Roar” oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, memicu respons cepat dari Teheran yang membalas dengan meluncurkan rudal ke Israel utara dan pangkalan militer AS di Timur Tengah. Eskalasi ini terjadi di tengah ketegangan yang meningkat selama berminggu-minggu dan negosiasi yang sedang berlangsung terkait program nuklir dan rudal balistik Iran, mengancam stabilitas regional secara signifikan.
Latar Belakang Eskalasi
Ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel telah berlangsung selama bertahun-tahun, terutama terkait program pengayaan uranium dan pengaruh regional Teheran. Washington dan Tel Aviv secara konsisten mengklaim bahwa aktivitas nuklir dan kapabilitas rudal Iran merupakan ancaman serius bagi keamanan mereka. Iran, di sisi lain, berulang kali menegaskan bahwa program nuklirnya bersifat damai dan tidak bertujuan untuk mengembangkan senjata nuklir, sementara Israel diyakini sebagai satu-satunya negara di Timur Tengah yang memiliki kapabilitas nuklir.
Eskalasi terbaru ini terjadi setelah mediator Oman mengumumkan kemajuan dalam perundingan di Jenewa, di mana Iran dilaporkan setuju untuk tidak menimbun uranium dan menerima verifikasi penuh dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Namun, pengerahan armada besar jet tempur dan kapal perang oleh Washington ke kawasan tersebut, yang disebut sebagai pengerahan terbesar sejak Perang Irak, mengindikasikan persiapan untuk tindakan militer.
Detail Operasi Militer Gabungan
Kantor berita Fars melaporkan serangkaian ledakan di Teheran sekitar pukul 09.27 waktu setempat. Koresponden Al Jazeera di Teheran barat mengonfirmasi mendengar dua ledakan, dengan video di media sosial menunjukkan asap membumbung dari beberapa titik kota. Seorang pejabat AS mengonfirmasi kepada Al Jazeera bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari operasi militer gabungan dengan Israel.
Ledakan dilaporkan terjadi di University Street dan kawasan Jomhouri di Teheran, serta dekat markas Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Kantor berita Associated Press juga melaporkan satu serangan terjadi di dekat kantor Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Ledakan juga terdengar di wilayah Seyyed Khandan, serta kota-kota Kermanshah, Qom, Tabriz, Isfahan, Ilam, Karaj, dan Provinsi Lorestan.
Presiden AS Donald Trump menyatakan tujuan operasi militer ini adalah untuk “menghancurkan misil mereka (Iran) dan meratakan industri misil mereka hingga ke tanah.” Ia menambahkan, “Kami akan memusnahkan angkatan laut mereka.” Trump menyebut operasi ini “masif dan sedang berlangsung,” bertujuan menghilangkan apa yang disebut Washington sebagai ancaman yang akan segera terjadi dari pemerintah Iran, serta memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir. Komentar Trump dinilai oleh koresponden Al Jazeera di Washington sebagai upaya “menyiapkan panggung bagi sebuah revolusi di Iran,” mengingatkan pada kudeta yang diatur CIA terhadap Perdana Menteri Iran Mohammad Mosaddegh 73 tahun sebelumnya.
Respons Militer Iran
Sebagai balasan, militer Israel melaporkan bahwa Iran meluncurkan rudal ke wilayah Israel. Sirene serangan udara berbunyi di beberapa wilayah, dan ledakan dilaporkan di Israel utara. Militer Israel menyatakan, “Angkatan Udara Israel beroperasi untuk mencegat dan menyerang ancaman bila diperlukan untuk menghilangkan ancaman tersebut.”
Tak lama kemudian, pasukan Iran juga meluncurkan rudal ke sejumlah lokasi yang terkait dengan operasi militer AS di kawasan, termasuk pangkalan Al Udeid di Qatar, pangkalan Al-Salem di Kuwait, pangkalan Al-Dhafra di Uni Emirat Arab, dan markas armada kelima AS di Bahrain. Ledakan juga terdengar di Riyadh, Arab Saudi, dan pangkalan AS di Yordania dilaporkan menjadi sasaran. Ebrahim Azizi, ketua komisi keamanan nasional parlemen Iran, mengancam respons yang “menghancurkan,” menyatakan di media sosial, “Sekarang Anda telah memulai jalan yang akhirnya tidak lagi berada dalam kendali Anda.”
Reaksi Komunitas Internasional
Operasi militer ini memicu kecaman dan kekhawatiran dari komunitas internasional. Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, menyatakan bahwa negosiasi aktif dan serius yang dimediasi negaranya “sekali lagi dirusak” dan mendesak AS “tidak terseret lebih jauh” ke dalam konflik. Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menggambarkan situasi sebagai “berbahaya” dan menyerukan perlindungan warga sipil serta penghormatan terhadap hukum internasional.
Presiden Perancis Emmanuel Macron memperingatkan bahwa konflik ini membawa “konsekuensi serius bagi perdamaian dan keamanan internasional” dan menegaskan, “Eskalasi saat ini berbahaya bagi semua orang. Ini harus dihentikan.” Di Rusia, Wakil Ketua Dewan Keamanan Dmitry Medvedev mengkritik Trump dan menuduh Washington menggunakan negosiasi sebagai “operasi kedok.” Sementara itu, Inggris menyatakan bahwa Iran tidak boleh diizinkan mengembangkan senjata nuklir dan siap mempertahankan kepentingannya, sementara Perdana Menteri Kanada Mark Carney mendukung upaya AS untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dan terus mengancam perdamaian internasional.
Analisis mengenai pergerakan militer ini didasarkan pada laporan dari kantor berita internasional, pernyataan resmi dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat, Kementerian Pertahanan Israel, dan Korps Garda Revolusi Islam Iran yang dirilis pada 28 Februari 2026, serta pantauan citra satelit yang tersedia untuk publik.